EtIndonesia. Pada Kamis, 26 Februari, komandan tertinggi AS di Timur Tengah, Brad Cooper, memberi pengarahan kepada Presiden Donald Trump tentang kemungkinan opsi aksi militer terhadap Iran, menurut Axios.
Menurut media tersebut, ini adalah pertama kalinya Laksamana Brad Cooper, komandan Komando Pusat AS di Timur Tengah, memberi pengarahan kepada Trump sejak krisis Iran dimulai pada Desember 2025.
Seorang pejabat AS mengatakan pengarahan tersebut juga dihadiri oleh Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine.
Pertemuan tersebut berlangsung saat putaran ketiga pembicaraan nuklir AS-Iran di Jenewa berakhir. Banyak orang di dalam pemerintahan Trump memandang momen tersebut sebagai kesempatan terakhir untuk diplomasi sebelum Trump memutuskan apakah akan bergerak menuju aksi militer.
Seorang pejabat senior AS menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai “positif” tetapi tidak memberikan rincian. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan negosiasi tersebut menghasilkan pemahaman pada beberapa isu sementara masih ada kesenjangan pada isu lainnya.
Menurut Araghchi dan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, langkah selanjutnya termasuk konsultasi di Washington dan Teheran, diikuti oleh diskusi nuklir tingkat ahli di Wina minggu depan. Araghchi juga mengisyaratkan putaran keempat pembicaraan.
Apa lagi yang diketahui tentang negosiasi dan perencanaan perang?
Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan detail putaran ketiga pembicaraan, mengatakan bahwa utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, menuntut Iran membongkar tiga fasilitas nuklir utamanya dan mentransfer sisa uranium yang diperkaya ke Amerika Serikat.
Mereka juga mengatakan bahwa setiap perjanjian nuklir di masa depan harus bersifat permanen, tidak seperti kesepakatan yang dicapai di bawah Barack Obama.
Iran menolak mentransfer persediaan uranium ke luar negeri, menghentikan pengayaan, membongkar fasilitas, atau menerima pembatasan permanen pada program nuklirnya.
Di tengah kesulitan mencapai kesepakatan, Trump belum mengesampingkan opsi militer. Reuters melaporkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan skenario mulai dari serangan terbatas hingga strategi perubahan rezim yang lebih luas.
Selama bulan lalu, Amerika Serikat telah mengerahkan pesawat tambahan, aset angkatan laut, dan peralatan militer lainnya ke wilayah tersebut. (yn)





