Minggu ini, wajah layanan kesehatan Indonesia mendapat babak baru. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur resmi menghadirkan dokter spesialis asing untuk melayani pasien di dalam negeri.
Kabar ini langsung memantik diskusi luas di media sosial. Sebagian menyambut dengan optimisme—akhirnya layanan medis kelas dunia hadir tanpa perlu ke luar negeri.
Sebagian lain bertanya lebih kritis: “Ini untuk siapa? Apakah pasien BPJS bisa merasakan manfaatnya?”
Pertanyaan itu wajar. Karena setiap kebijakan kesehatan, pada akhirnya akan selalu diuji di satu titik: seberapa inklusif ia bagi masyarakat luas.
Bukan Sekadar soal Dokter PintarSelama ini, banyak orang mengira pasien Indonesia berobat ke luar negeri karena dokter dalam negeri kalah kompeten. Padahal realitasnya tidak sesederhana itu.
Indonesia tidak kekurangan dokter hebat. Rumah sakit besar pun sudah dilengkapi teknologi canggih. Yang sering kali dicari pasien justru bukan alat atau gelar akademik, melainkan pengalaman pelayanan.
Di luar negeri, pasien merasa:
tidak dipingpong administrasi
punya waktu konsultasi yang manusiawi
dijelaskan penyakitnya dengan sabar
diperlakukan sebagai manusia, bukan nomor antrean
Itulah yang sering disebut sebagai hospitality medis — sesuatu yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di banyak rumah sakit dalam negeri.
KEK Sanur sebagai Cermin Sistem Kesehatan KitaHadirnya dokter asing di Sanur seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman bagi dokter lokal, melainkan sebagai cermin besar bagi sistem pelayanan kita.
Jika layanan di KEK Sanur nanti terasa lebih rapi, cepat, nyaman, dan komunikatif, maka pertanyaannya bukan soal kebangsaan dokter.
Pertanyaannya adalah:
Pasien tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin kepastian, kejelasan, dan rasa dihargai.
Risiko Menjadi Layanan EliteNamun ada kekhawatiran yang tak bisa diabaikan. KEK Sanur berpotensi menjadi ruang kesehatan eksklusif—hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu membayar mahal.
Jika ini terjadi, maka jurang layanan kesehatan akan semakin lebar:
satu sisi layanan “bintang lima”
sisi lain pasien yang masih berjuang dalam antrean panjang
Padahal kesehatan seharusnya bukan privilese kelas ekonomi. Inovasi medis seharusnya mengangkat standar nasional, bukan hanya menciptakan pulau layanan premium.
Harapan yang Lebih BesarIdealnya, KEK Sanur menjadi laboratorium pelayanan terbaik: tempat praktik efisiensi, empati, dan komunikasi medis yang kemudian direplikasi ke rumah sakit lain di seluruh Indonesia.
Bukan sekadar destinasi wisata medis. Jika yang ditiru hanya tarif mahalnya, maka kita gagal.
Namun jika yang ditiru adalah sistem ramah pasiennya, maka kita menang besar.
PenutupDokter asing di Sanur bukanlah masalah. Yang menjadi soal adalah apakah kehadiran mereka membawa perubahan budaya pelayanan kesehatan secara menyeluruh, atau hanya mempercantik sudut kecil sistem yang timpang.
Pasien Indonesia tidak hanya butuh pengobatan canggih. Mereka butuh diperlakukan dengan martabat. Dan jika KEK Sanur mampu menjadi pemicu reformasi layanan yang lebih manusiawi untuk semua lapisan masyarakat, maka inilah investasi kesehatan yang sesungguhnya.
Bukan hanya untuk wisata medis,
tetapi untuk masa depan sistem kesehatan Indonesia.





