Bisnis.com, JAKARTA -- Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali menyoroti ketegangan geopolitik global terutama perkembangan terbaru perundingan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Lewat akun X-nya, SBY mengemukakan bahwa perundingan ini akan mengubah peta permainan dan memiliki implikasi besar terhadap perkembangan dunia. Pasalnya, apapun hasil perundingan antara kedua negara, akan sangat ditunggu oleh semua pihak termasuk bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah.
Sekadar informasi bahwa di tengah perundingan yang berlangsung di Jenewa, Swiss, perang psikis antara Iran dan AS terus berlangsung. Insiden saling mengintai antara kedua negara terus terjadi.
AS telah mengerahkan armada tempurnya ke wilayah Timur Tengah. Sementara itu, Iran juga berulangkali mempertontonkan kemampuan rudal balistik mereka yang disebut mampu menenggelamkan kapal-kapal berukuran besar, termasuk kapal induk yang menjadi tumpuan kekuatan militer AS.
SBY yang mengklaim berpengalaman dalam resolusi konflik, menyarankan supaya juru runding harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Namun dia juga paham, membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
"Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give," demikian pernyataan SBY yang dikutip, Jumat (27/2/2026).
Baca Juga
- Negosiasi Nuklir Iran-AS di Swiss, Perang Batal Pecah?
- Harga Emas Global Stabil, Pasar Cermati Kelanjutan Perundingan Nuklir AS-Iran
- Iran hingga Zambia, Ini Daftar Negara dengan Inflasi Pangan Tertinggi 2026
SBY menyebut bahwa pemimpin AS dan Iran yakni, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”.
Menurutnya, Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”.
"Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei."
SBY berpendapat dengan sikap kedua pemimpin tersebut, potensi terjadinya perang antara AS dan Iran sangat mungkin terjadi. Tetapi pada saat yang sama, peluang untuk tidak terjadinya konfrontasi antara kedua negara juga masih memungkinkan.
Namun, dia cukup yakin baik Trump maupun Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Pasalnya, terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Mantan Ketua Umum Partai Demokrat itupun memberikan catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain. Hal inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya: "sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati)."





