Puasa Ketiga Belas: Ketika Lapar Menjaga Cahaya Hati

kumparan.com
16 jam lalu
Cover Berita

Tidak semua kesalahan lahir dari kebodohan.

Sebagian muncul karena hati yang tertutup oleh nafsu.

Pada puasa ketiga belas, seorang alim muda dikenal memiliki ketajaman firasat. Ia adalah Imam Syafi'i. Ia mampu membaca gelagat, memahami gelombang perasaan, bahkan menangkap sesuatu yang tidak terucap. Banyak orang mengaguminya. Namun, ia sendiri tidak pernah merasa istimewa.

Ia tahu, hati bisa jernih hari ini dan keruh esok hari. Karena itu, ia menjaga puasanya.

Ketajaman yang Tidak Boleh Disombongkan

Suatu hari, ia bertemu seseorang yang tutur katanya lembut dan sikapnya santun. Semua orang merasa nyaman di dekatnya. Namun, ada sesuatu yang membuat hatinya tidak sepenuhnya tenang.

Ia tidak ingin berburuk sangka. Ia juga tidak ingin tertipu oleh tampilan luar.

Puasa membuatnya tidak tergesa-gesa.

Allah berfirman,

Dalam penjelasan para mufasir, takwa adalah kondisi batin yang hidup dan waspada. Dari takwa lahir kejernihan melihat sesuatu secara proporsional.

Rasulullah SAW bersabda,

Namun, cahaya itu tidak menetap jika hati dipenuhi kesombongan.

Antara Firasat dan Prasangka

Menjelang sore, ia justru meragukan dirinya sendiri.

“Apakah ini firasat, atau hanya prasangka?”

Ia tidak ingin menuduh tanpa dasar.

Puasa mengajarkannya untuk menahan bukan hanya lapar, melainkan juga penilaian yang tergesa. Ia memilih diam. Ia memilih mengamati. Ia memilih berdoa agar Allah menjauhkan dirinya dari su’uzan.

Al-Qur’an mengingatkan,

Lapar melembutkan ego. Haus menurunkan kesombongan. Dalam kondisi itulah hati lebih mudah jujur pada dirinya sendiri.

Cahaya yang Dijaga oleh Takwa

Beberapa waktu kemudian, kebenaran terungkap. Orang yang tampak santun itu ternyata menyimpan niat yang tidak baik. Bukan firasatnya yang keliru, melainkan kehati-hatiannya yang menyelamatkan.

Ia tidak merasa menang. Ia justru merasa takut jika suatu hari hatinya tidak lagi sejernih itu.

Allah berfirman,

Dalam tafsir disebutkan, furqan adalah cahaya pembeda yang Allah tanamkan di hati orang bertakwa. Ia bukan hasil kecerdasan semata, melainkan buah dari kebersihan jiwa.

Puasa ketiga belas itu mengajarkan satu hal sederhana: ketajaman hati bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk menjaga diri dari kesalahan.

Kita hidup di zaman ketika penilaian begitu cepat dan vonis begitu mudah. Namun, puasa mengajarkan banyak hal: mengajarkan jeda, mengajarkan sabar, dan mengajarkan untuk memeriksa diri sebelum menilai orang lain.

Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa tajam kita membaca manusia, melainkan tentang seberapa bersih hati kita di hadapan Allah.

Lapar bisa melemahkan tubuh. Namun, ia menguatkan cahaya di dalam dada.

Dan mungkin, di situlah rahasia puasa yang paling dalam.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jalan di Jakut Rusak Imbas Galian, Warga Keluhkan Banyak Kecelakaan
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Ribuan Turis Australia Batal ke Bali akibat Banjir, PHRI: Dampaknya Besar
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Reformasi Tenaga Kerja Argentina Disahkan Jadi UU, Diklaim Dorong Investasi
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Mutasi Polri: Kapolres Sleman yang Tetapkan Suami Korban Jambret Sebagai Tersangka Ditarik ke Divisi Hukum Polri
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Kemenag Gandeng British Council, 720 Guru Madrasah Disiapkan Tembus Panggung Dunia
• 23 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.