Tidak semua kesalahan lahir dari kebodohan.
Sebagian muncul karena hati yang tertutup oleh nafsu.
Pada puasa ketiga belas, seorang alim muda dikenal memiliki ketajaman firasat. Ia adalah Imam Syafi'i. Ia mampu membaca gelagat, memahami gelombang perasaan, bahkan menangkap sesuatu yang tidak terucap. Banyak orang mengaguminya. Namun, ia sendiri tidak pernah merasa istimewa.
Ia tahu, hati bisa jernih hari ini dan keruh esok hari. Karena itu, ia menjaga puasanya.
Ketajaman yang Tidak Boleh DisombongkanSuatu hari, ia bertemu seseorang yang tutur katanya lembut dan sikapnya santun. Semua orang merasa nyaman di dekatnya. Namun, ada sesuatu yang membuat hatinya tidak sepenuhnya tenang.
Ia tidak ingin berburuk sangka. Ia juga tidak ingin tertipu oleh tampilan luar.
Puasa membuatnya tidak tergesa-gesa.
Allah berfirman,
Dalam penjelasan para mufasir, takwa adalah kondisi batin yang hidup dan waspada. Dari takwa lahir kejernihan melihat sesuatu secara proporsional.
Rasulullah SAW bersabda,
Namun, cahaya itu tidak menetap jika hati dipenuhi kesombongan.
Antara Firasat dan PrasangkaMenjelang sore, ia justru meragukan dirinya sendiri.
“Apakah ini firasat, atau hanya prasangka?”
Ia tidak ingin menuduh tanpa dasar.
Puasa mengajarkannya untuk menahan bukan hanya lapar, melainkan juga penilaian yang tergesa. Ia memilih diam. Ia memilih mengamati. Ia memilih berdoa agar Allah menjauhkan dirinya dari su’uzan.
Al-Qur’an mengingatkan,
Lapar melembutkan ego. Haus menurunkan kesombongan. Dalam kondisi itulah hati lebih mudah jujur pada dirinya sendiri.
Cahaya yang Dijaga oleh TakwaBeberapa waktu kemudian, kebenaran terungkap. Orang yang tampak santun itu ternyata menyimpan niat yang tidak baik. Bukan firasatnya yang keliru, melainkan kehati-hatiannya yang menyelamatkan.
Ia tidak merasa menang. Ia justru merasa takut jika suatu hari hatinya tidak lagi sejernih itu.
Allah berfirman,
Dalam tafsir disebutkan, furqan adalah cahaya pembeda yang Allah tanamkan di hati orang bertakwa. Ia bukan hasil kecerdasan semata, melainkan buah dari kebersihan jiwa.
Puasa ketiga belas itu mengajarkan satu hal sederhana: ketajaman hati bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk menjaga diri dari kesalahan.
Kita hidup di zaman ketika penilaian begitu cepat dan vonis begitu mudah. Namun, puasa mengajarkan banyak hal: mengajarkan jeda, mengajarkan sabar, dan mengajarkan untuk memeriksa diri sebelum menilai orang lain.
Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa tajam kita membaca manusia, melainkan tentang seberapa bersih hati kita di hadapan Allah.
Lapar bisa melemahkan tubuh. Namun, ia menguatkan cahaya di dalam dada.
Dan mungkin, di situlah rahasia puasa yang paling dalam.





