Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap rencana pemerintah untuk menyetop ekspor timah mentah sejalan komitmen memaksimalkan pemanfaatan timah di dalam negeri.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan timah memiliki peran strategis dalam mendukung industri solar panel, elektronik, hingga semikonduktor. Indonesia tengah mendorong pengembangan industri tersebut lewat dukungan bahan baku dalam negeri, termasuk timah.
Menurutnya, optimalisasi penggunaan timah domestik akan memperkuat daya saing industri energi baru terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor bahan mentah.
“Ini kan sudah ada beberapa industri solar panel yang ada di dalam negeri, dan juga ini akan memanfaatkan timah juga sebagai salah satu faktor penunjang produksinya,” ujar Yuliot di Jakarta, dikutip Sabtu (28/2/2026).
Selain sektor energi terbarukan, pemerintah juga memprioritaskan pengembangan industri elektronik dan semikonduktor sebagai bagian dari transformasi ekonomi berbasis teknologi. Timah menjadi salah satu komponen penting dalam rantai pasok industri tersebut.
Pengembangan semikonduktor bahkan telah masuk dalam agenda kerja sama internasional, termasuk dalam kerangka Agreement Reciprocal Trade (ART), yang menempatkan sektor ini sebagai prioritas strategis nasional.
Baca Juga
- Efek Pembatasan Ekspor Timah Mentah bagi Emiten Pelat Merah TINS
- Pedang Bermata Dua Larangan Ekspor Timah
- PT Timah (TINS) Resmi Menyandang Status Persero Susul Antam dan PTBA
“Kemudian juga ada pengembangan industri elektronik, semikonduktor yang menjadi prioritas dan juga di dalam ART kan juga termasuk bagian semikonduktor itu kan juga akan kita kembangkan,” tuturnya.
Lebih lanjut, dia melihat potensi besar dari mineral ikutan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dalam proses ekstraksi timah. Dalam konteks hilirisasi, penataan sektor pertambangan akan diarahkan agar seluruh potensi tersebut dapat diolah di dalam negeri.
“Jadi, dalam rangka penataan sektor pertambangan, ya kami mengharapkan itu nanti juga bagian yang bisa logam tanah jarang yang ada di situ, ya kemudian kritikal mineral juga ada di situ, bisa dimanfaatkan untuk pengembangan industri di dalam negeri,” jelasnya.
Hal ini selaras dengan arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyebut pemerintah akan mempertimbangkan pelarangan sejumlah komoditas logam lainnya dalam beberapa tahun ke depan untuk menggenjot industrialisasi dalam negeri.
“Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit dan tahun ke depan kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain termasuk timah, enggak boleh lagi kita ekspor barang mentah,” kata Bahlil dalam agenda Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat (13/2/2026).
Bahlil menegaskan, arah kebijakan hilirisasi tidak akan berhenti pada nikel dan bauksit semata. Pemerintah ingin memastikan bahwa sumber daya alam strategis benar-benar menjadi pengungkit pertumbuhan industri domestik, bukan sekadar komoditas ekspor mentah yang minim nilai tambah.
Diberitakan Bisnis sebelumnya, Wiraraja Group baru-baru ini, memboyong perusahaan cip asal Amerika Serikat (AS) untuk membangun industri semikonduktor di Indonesia.
Nilai investasi yang akan ditanamkan tak main-main yakni US$4,9 miliar atau setara Rp82,88 triliun (asumsi kurs Rp16.915 per US$) pada tahap awal. Investasi berpotensi bertambah sebesar US$26,7 miliar atau sekitar Rp533,09 triliun bila tahap pertama berjalan lancar.
Mitra strategis dari AS yang terlibat adalah Essence Global Group dan Tynergy Technology Corporation USA. Perjanjian Pengembangan Bersama (Joint Development Agreement) tersebut secara resmi ditandatangani pada 18 Februari 2026 serta perjanjian lanjutan dengan Tynergy Technology Corp.
Proyek tersebut diinisiasi PT Galang Bumi Industri sebagai pengelola Proyek Strategis Nasional (PSN) Wiraraja Green Renewable Energy & Smart Eco-Industrial Park (GESEIP) di Galang, Batam.





