Tukang Sepatu dan Presiden

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketika Abraham Lincoln terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, banyak anggota Senat merasa canggung. Pasalnya, ayah Lincoln hanyalah seorang tukang sepatu.

Pada masa itu, sebagian besar senator berasal dari keluarga terpandang dan bangsawan. Mereka merasa diri sebagai kalangan elit dan terhormat. Tak pernah terbayang oleh mereka bahwa presiden yang harus mereka hadapi adalah anak seorang tukang sepatu.

Maka sebelum Lincoln menyampaikan pidato di Senat, beberapa senator telah berencana untuk mempermalukannya.

Saat Lincoln berdiri di mimbar, seorang senator yang sombong bangkit dan berkata dengan nada meremehkan: “Tuan Lincoln, sebelum Anda mulai berbicara, saya harap Anda ingat bahwa Anda adalah anak seorang tukang sepatu.”

Seluruh anggota Senat tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak bisa mengalahkan Lincoln dalam pemilihan, tetapi setidaknya mereka merasa puas karena berhasil menghinanya.

Lincoln menunggu hingga tawa itu mereda. 

Dengan tenang dia berkata: “Saya sangat berterima kasih kepada Anda karena telah mengingatkan saya tentang ayah saya. Beliau sudah meninggal dunia, tetapi saya akan selalu mengingat nasihat Anda. Saya memang anak seorang tukang sepatu. Dan saya tahu, sebagai presiden pun, saya tidak akan pernah bisa melakukan pekerjaan saya sebaik ayah saya membuat sepatu.”

Ruangan Senat tiba-tiba menjadi hening.

Lincoln lalu menoleh kepada senator yang sombong itu dan berkata: “Sejauh yang saya tahu, ayah saya pernah membuat sepatu untuk keluarga Anda. Jika sepatu Anda terasa tidak nyaman, saya bisa memperbaikinya. Walaupun saya bukan tukang sepatu yang hebat, sejak kecil saya telah belajar seni membuat sepatu dari ayah saya.”

Kemudian dia berkata kepada seluruh senator: “Hal yang sama berlaku bagi siapa pun di ruangan ini. Jika ada sepatu buatan ayah saya yang perlu diperbaiki, saya akan berusaha membantu semampu saya. Namun satu hal yang pasti—saya tidak akan pernah bisa menandingi kebesaran beliau. Keahliannya tak tertandingi.”

Saat mengucapkan kata-kata itu, Lincoln menitikkan air mata.

Tawa ejekan yang sebelumnya terdengar kini berubah menjadi tepuk tangan penuh hormat.

Lincoln mungkin tidak menjadi tukang sepatu yang hebat, tetapi dia menjadi presiden yang agung.

Dan kualitas terbesarnya adalah ini: Dia tidak pernah melupakan bahwa dia adalah anak seorang tukang sepatu—dan dia bangga akan hal itu.

Hikmah Cerita

Jika ingin orang lain menerima kita, kita harus terlebih dahulu menerima diri sendiri.

Lincoln tidak pernah menyangkal asal-usulnya. Dia tidak merasa malu menjadi anak tukang sepatu. Justru dia bangga terhadap ayahnya. Itulah yang membuat orang lain menghormatinya.

Dalam hal jabatan dan status sosial, mungkin ada perbedaan tinggi dan rendah. Namun dalam hal martabat sebagai manusia, semua orang setara.

Tidak ada seorang pun yang berhak merendahkan orang lain.

Jika seseorang merasa rendah diri karena dihina, itu berarti hatinya belum cukup kuat. Sebaliknya, jika seseorang menilai orang lain berdasarkan status dan merendahkannya, itu hanya menunjukkan sempitnya pikirannya.

Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh pakaian bermerek atau jabatan yang disandangnya.

Kemuliaan sejati terletak pada hati yang mau memberi dan menghormati sesama.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Resmikan Jakarta Ramadan Festival, Pramono: Mari Mudik ke Jakarta
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PT HDP Buka Suara soal Pengusiran Ketua Komisi III DPR, Jelaskan Polemik Akses Mushola
• 21 jam lalukompas.com
thumb
KPK Tahan Budiman Bayu, Tersangka Ketujuh Kasus Suap Impor Barang KW
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
15 Tewas Saat Pesawat Militer Bolivia yang Membawa Uang Jatuh di Jalan Raya
• 5 jam laluerabaru.net
thumb
Alasan Indonesia Abstain di Resolusi PBB
• 9 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.