Pang Suma dan Perang Majang Desa: Ketika Pedalaman Kalbar Mengguncang Jepang

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Sejarah kemerdekaan Indonesia kerap bergerak di sekitar Jakarta, Surabaya, atau Yogyakarta. Nama-nama besar memenuhi halaman buku pelajaran.

Namun, jauh di pedalaman Kalimantan Barat, di wilayah Meliau (kini Kabupaten Sanggau), pada pertengahan 1945 terjadi perlawanan bersenjata yang tak kalah menentukan bagi harga diri masyarakat setempat. Di sanalah Pang Suma berdiri sebagai pemimpin gerilya Dayak Desa melawan pendudukan Jepang.

Pendudukan Jepang di Kalimantan Barat (1942–1945) bukan sekadar pergantian kekuasaan dari Belanda. Di berbagai daerah, Jepang menerapkan mobilisasi sumber daya secara paksa, termasuk pengerahan romusha, penarikan bahan pangan, dan pengawasan ketat terhadap tokoh-tokoh lokal.

Dalam konteks Kalbar, kekerasan Jepang bahkan mencapai puncaknya dalam peristiwa Mandor 1943 yang menewaskan banyak elite lokal. Atmosfer ketakutan dan represi inilah yang menjadi latar munculnya berbagai bentuk perlawanan.

Di Meliau, tekanan ekonomi dan militer mendorong masyarakat Dayak Desa untuk mengambil sikap. Pang Suma—yang berasal dari Nek Bindang, Meliau—muncul sebagai figur sentral.

Ia bukan produk pendidikan kolonial atau birokrat formal, melainkan bagian dari struktur sosial adat yang memiliki pengaruh dalam komunitasnya. Kepemimpinannya tumbuh dari legitimasi sosial, bukan jabatan administratif.

Kajian dalam jurnal Bihari yang membahas "Perang Majang Desa" menjelaskan bahwa perlawanan Dayak Desa terhadap Jepang bukan tindakan sporadis, melainkan gerakan terorganisasi yang melibatkan mobilisasi masyarakat dan strategi serangan ke pos-pos Jepang (Prabowo, 2019).

Istilah “Perang Majang Desa” merujuk pada konflik bersenjata yang terjadi di wilayah Meliau dan sekitarnya menjelang akhir pendudukan Jepang.

Menurut laporan sejarah populer yang dirangkum DetikEdu (2023), pada 24 Juni 1945 pasukan yang dipimpin Pang Suma berhasil menyerang dan mengguncang pertahanan Jepang di Meliau.

Momentum ini menjadi simbol keberanian komunitas pedalaman menghadapi militer kekaisaran Jepang. Perlawanan tersebut menunjukkan bahwa wilayah pedalaman Kalimantan Barat bukan daerah pasif dalam dinamika Perang Pasifik.

Tulisan di Indonesiana (2025) yang merujuk pada kajian sejarah lokal menegaskan bahwa serangan Dayak Desa membuat Jepang harus mengerahkan kembali kekuatan militernya untuk meredam perlawanan di Meliau.

Namun, keunggulan persenjataan dan organisasi militer Jepang akhirnya membalikkan keadaan. Pada pertengahan Juli 1945, pasukan Jepang melakukan serangan balasan.

Dalam pertempuran lanjutan, Pang Suma tertembak dan gugur pada 17 Juli 1945—hanya sebulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Gugurnya Pang Suma menandai redupnya perlawanan bersenjata di wilayah tersebut, tetapi tidak menghapus jejaknya dalam memori kolektif masyarakat Meliau.

Penelitian pendidikan sejarah dari Universitas Tanjungpura menunjukkan bahwa situs makam Pang Suma kini dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah lokal bagi siswa SMA di Meliau (Miyaturina, t.t.).

Artinya, narasi perjuangan ini tetap hidup dalam ruang ingatan sosial masyarakat, meskipun tidak selalu masuk dalam arus utama historiografi nasional.

Mengapa Kisah Ini Penting Diangkat Kembali?

Pertama, ia memperluas perspektif sejarah Indonesia yang kerap Jawa-sentris. Republik tidak lahir hanya dari diplomasi elite dan pertempuran di kota besar. Di pedalaman Kalimantan Barat, masyarakat adat pun mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan martabat dan kebebasan.

Kedua, kisah Pang Suma menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh dari akar-akar lokal. Identitas Dayak dan identitas Indonesia tidak bertentangan; justru melalui pembelaan terhadap ruang hidup komunitasnya, gagasan kebangsaan menemukan bentuk konkret.

Ketiga, dari sisi metodologi sejarah, Perang Majang Desa memperlihatkan pentingnya menggabungkan arsip tertulis, laporan jurnal ilmiah, dan ingatan lisan komunitas. Banyak episode sejarah daerah yang hanya bisa direkonstruksi melalui kombinasi sumber formal dan tradisi lokal.

Hari ini, ketika isu relasi pusat-daerah, pengakuan masyarakat adat, dan keadilan sejarah kembali menjadi perbincangan, kisah Pang Suma terasa relevan. Ia mengingatkan bahwa republik ini berdiri di atas pengorbanan yang tersebar di banyak titik, termasuk di hutan-hutan Kalimantan Barat.

Dari Meliau, kita belajar satu hal sederhana, tetapi mendalam: kemerdekaan bukan hadiah dari pusat kekuasaan, melainkan hasil keberanian orang-orang yang sering kali tidak tercatat dalam buku besar sejarah nasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kriminal sepekan, kecelakaan bus TJ hingga adik bunuh kakak di Jakut
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo: Imlek Bukan Hanya Perayaan Keagamaan, Ini Momentum Persatuan
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
• 11 jam lalusuara.com
thumb
Arab Saudi Peringatkan Konsekuensi Serius Akibat Pelanggaran Iran
• 17 jam lalutvrinews.com
thumb
Pekan Kedua Ramadan, Warga Manfaatkan CFD Sudirman-Thamrin Untuk Bersepeda
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.