Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia membandingkan serangan Amerika Serikat terhadap Iran dengan invasi Irak pada tahun 2003. Mereka menilai dalih “membantu rakyat” yang diklaim AS dan Israel berujung pada kehancuran, sebagaimana yang pernah dialami Irak.
“Amerika pada bulan Ramadan tahun 2003 juga mengeklaim membantu rakyat Irak. Sejak saat itu, yang diperoleh rakyat Irak tidak lain hanyalah kematian, kehancuran, dan penderitaan,” jelas Kedutaan Iran dalam siaran pers, Minggu (1/3).
Menurut Kedutaan Iran, pola serupa kembali terjadi dalam serangan terhadap Iran kali ini. AS dan Israel dinilai menggunakan narasi bantuan kemanusiaan untuk membenarkan intervensi militer.
“Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel mengeklaim bahwa mereka akan membantu rakyat Iran. Dengan dalih yang sama pula, mereka membajak protes damai rakyat Iran pada Januari 2026 menjadi kerusuhan yang penuh kekerasan,” kata Kedutaan Iran.
Kedutaan Iran menilai, realitas di lapangan justru menunjukkan dampak yang berlawanan dari klaim tersebut.
“Kini terlihat bagaimana mereka ‘membantu’ rakyat Iran, dengan serangan rudal terhadap perempuan dan anak-anak tak berdosa di sekolah dasar, klub olahraga, rumah-rumah penduduk, dan lainnya, terlebih lagi di bulan suci Ramadan,” ungkapnya.
Lebih jauh, Kedutaan Iran juga menyinggung pengalaman negara lain yang pernah menjadi sasaran intervensi militer AS.
“Rakyat Libya dan Afghanistan pun telah merasakan ‘bantuan’ Amerika. Intervensi dan agresi Amerika terhadap negara-negara lain tidak menghasilkan apa pun selain kematian dan kehancuran,” kata Kedutaan Iran.
Sebelumnya, AS dan Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2). Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas usai serangan tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menggunakan “kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya” jika Iran membalas serangan AS dan Israel yang menewaskan Khamenei.
Dilansir AFP, melalui platform Truth Social pada Minggu (1/3) dini hari, Trump mengatakan Iran berencana menyerang “lebih keras dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya.” Ia pun memperingatkan Teheran agar tidak melaksanakan ancaman tersebut.
“SEBAIKNYA MEREKA TIDAK MELAKUKAN ITU. NAMUN JIKA MEREKA MELAKUKANNYA, KAMI AKAN MENGHANTAM MEREKA DENGAN KEKUATAN YANG BELUM PERNAH TERLIHAT SEBELUMNYA!” tulis dia.
Ancaman itu muncul setelah kampanye pengeboman gabungan AS dan Israel di Iran yang dikonfirmasi telah menewaskan Khamenei. Serangan tersebut dilakukan menyusul peningkatan besar-besaran kehadiran militer AS di Timur Tengah, yang disebut sebagai pengerahan terbesar sejak invasi Irak pada 2003.




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F03%2F10%2F830528f71eff2a2cca361dd596404121-20250310ron10.jpg)
