Beijing (ANTARA) - Pemerintah China mengecam keras serangan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2) hingga menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
"Serangan dan pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan Iran. China dengan tegas menentang dan mengecam keras tindakan tersebut," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China dalam laman Kementerian Luar Negeri yang diakses ANTARA, Minggu.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi tewas dalam serangan yang dilancarkan AS dan Israel pada Sabtu (28/2), menandai berakhirnya kepemimpinan ulama dan politisi itu selama 37 tahun di Iran.
Media pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Khamenei kehilangan nyawanya selama serangan AS-Israel, menyatakan bahwa "pemimpin revolusi Islam Iran telah mencapai kemartiran."
"Tindakan tersebut menginjak-injak tujuan dan prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta norma-norma dasar dalam hubungan internasional," demikian disebutkan.
China juga meminta agar aksi militer dapat segera dihentikan.
"Kami mendesak agar operasi militer segera dihentikan, tidak ada lagi eskalasi situasi yang tegang, serta adanya upaya bersama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah maupun dunia secara keseluruhan," tambah pernyataan tersebut.
Menurut para pejabat pemerintahan Iran, Khemenei sedang berada di kantornya di Teheran saat serangan pada Sabtu pagi terjadi sehingga mengenai dan menewaskannya.
Sumber-sumber Iran melaporkan beberapa anggota keluarga Khamenei, termasuk putrinya, menantu laki-lakinya, cucunya, dan menantu perempuannya, tewas dalam serangan tersebut.
Khamenei menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989 setelah menjabat sebagai presiden dari 1981 hingga 1989.
Pemerintah Iran telah mengumumkan 40 hari masa berkabung dan libur kerja selama seminggu setelah Ali Khamenei meninggal dunia.
Presiden Iran, ketua pengadilan, dan seorang anggota Dewan Wali Iran akan menjalankan tugas Khamenei pada masa kekosongan jabatan.
Agresi AS Israel ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur tapi juga korban jiwa setidaknya 201 orang tewas dan 747 luka-luka.
Sedangkan dari pihak militer, serangan AS dan Israel itu menewaskan Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mohammad Pakpour, Kepala Staf militer Iran Abdulrahim Mousavi, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh dan Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani.
Agresi tersebut kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal ke wilayah Israel, serta ke sejumlah instalasi militer AS di Timur Tengah.
IRGC dan Angkatan Darat Iran, dalam pernyataan tertulis mereka, bersumpah akan membalas kematian Khamenei. Serangan tersebut diarahkan ke 27 titik, antara lain pangkalan udara Tel Nof di Israel tengah, markas besar angkatan darat Israel, dan sebuah kompleks industri militer di Tel Aviv.
Demonstrasi pun pecah pada Minggu (1/3) di berbagai daerah di Iran menyusul pengumuman gugurnya Khamenei.
Warga turun ke jalan di kota-kota di seluruh Iran sebagai tanggapan atas berita kematian Khamenei.
Media Iran mengatakan para demonstran yang membawa bendera Iran berkumpul di pusat-pusat kota untuk menyuarakan kesedihan mereka.
Di Teheran, ratusan orang berkumpul di Lapangan Inkilap, mengibarkan bendera dan poster Khamenei, dan meneriakkan slogan-slogan yang mengutuk AS dan Israel.
Di kota suci Qom, ratusan orang berkumpul di makam Hazrat Masume untuk mengecam serangan tersebut.
Sementara itu, di Mashhad, para pelayat mengungkapkan rasa duka dengan membentangkan bendera hitam di atas kubah Makam Imam Reza, salah satu situs keagamaan paling dihormati di Iran, dan banyak yang terlihat meneteskan air mata di sekitar makam tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Ayatollah Ali Khamenei sebagai "salah satu orang paling jahat dalam sejarah". Ia juga menyebut Khamenei tidak dapat menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih AS dan menyebut kerja sama erat negaranya dengan Israel membuat pemimpin Iran dan sejumlah pejabat lain tidak mampu meloloskan diri.
"Serangan dan pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan Iran. China dengan tegas menentang dan mengecam keras tindakan tersebut," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China dalam laman Kementerian Luar Negeri yang diakses ANTARA, Minggu.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi tewas dalam serangan yang dilancarkan AS dan Israel pada Sabtu (28/2), menandai berakhirnya kepemimpinan ulama dan politisi itu selama 37 tahun di Iran.
Media pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Khamenei kehilangan nyawanya selama serangan AS-Israel, menyatakan bahwa "pemimpin revolusi Islam Iran telah mencapai kemartiran."
"Tindakan tersebut menginjak-injak tujuan dan prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta norma-norma dasar dalam hubungan internasional," demikian disebutkan.
China juga meminta agar aksi militer dapat segera dihentikan.
"Kami mendesak agar operasi militer segera dihentikan, tidak ada lagi eskalasi situasi yang tegang, serta adanya upaya bersama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah maupun dunia secara keseluruhan," tambah pernyataan tersebut.
Menurut para pejabat pemerintahan Iran, Khemenei sedang berada di kantornya di Teheran saat serangan pada Sabtu pagi terjadi sehingga mengenai dan menewaskannya.
Sumber-sumber Iran melaporkan beberapa anggota keluarga Khamenei, termasuk putrinya, menantu laki-lakinya, cucunya, dan menantu perempuannya, tewas dalam serangan tersebut.
Khamenei menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989 setelah menjabat sebagai presiden dari 1981 hingga 1989.
Pemerintah Iran telah mengumumkan 40 hari masa berkabung dan libur kerja selama seminggu setelah Ali Khamenei meninggal dunia.
Presiden Iran, ketua pengadilan, dan seorang anggota Dewan Wali Iran akan menjalankan tugas Khamenei pada masa kekosongan jabatan.
Agresi AS Israel ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur tapi juga korban jiwa setidaknya 201 orang tewas dan 747 luka-luka.
Sedangkan dari pihak militer, serangan AS dan Israel itu menewaskan Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mohammad Pakpour, Kepala Staf militer Iran Abdulrahim Mousavi, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh dan Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani.
Agresi tersebut kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal ke wilayah Israel, serta ke sejumlah instalasi militer AS di Timur Tengah.
IRGC dan Angkatan Darat Iran, dalam pernyataan tertulis mereka, bersumpah akan membalas kematian Khamenei. Serangan tersebut diarahkan ke 27 titik, antara lain pangkalan udara Tel Nof di Israel tengah, markas besar angkatan darat Israel, dan sebuah kompleks industri militer di Tel Aviv.
Demonstrasi pun pecah pada Minggu (1/3) di berbagai daerah di Iran menyusul pengumuman gugurnya Khamenei.
Warga turun ke jalan di kota-kota di seluruh Iran sebagai tanggapan atas berita kematian Khamenei.
Media Iran mengatakan para demonstran yang membawa bendera Iran berkumpul di pusat-pusat kota untuk menyuarakan kesedihan mereka.
Di Teheran, ratusan orang berkumpul di Lapangan Inkilap, mengibarkan bendera dan poster Khamenei, dan meneriakkan slogan-slogan yang mengutuk AS dan Israel.
Di kota suci Qom, ratusan orang berkumpul di makam Hazrat Masume untuk mengecam serangan tersebut.
Sementara itu, di Mashhad, para pelayat mengungkapkan rasa duka dengan membentangkan bendera hitam di atas kubah Makam Imam Reza, salah satu situs keagamaan paling dihormati di Iran, dan banyak yang terlihat meneteskan air mata di sekitar makam tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Ayatollah Ali Khamenei sebagai "salah satu orang paling jahat dalam sejarah". Ia juga menyebut Khamenei tidak dapat menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih AS dan menyebut kerja sama erat negaranya dengan Israel membuat pemimpin Iran dan sejumlah pejabat lain tidak mampu meloloskan diri.





