Eskalasi Timur Tengah Berpotensi Tingkatkan Inflasi hingga Tekan Rupiah

idxchannel.com
10 jam lalu
Cover Berita

Dampak awal memang berasal dari lonjakan harga minyak, namun efek tersebut akan menjalar jauh lebih luas.

Eskalasi Timur Tengah Berpotensi Tingkatkan Inflasi hingga Tekan Rupiah. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Eskalasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran berpotensi mengerek harga minyak dunia dan berdampak luas terhadap perekonomian, termasuk ekonomi Indonesia.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman mengatakan kondisi tersebut bisa memicu terjadinya inflasi.

Baca Juga:
Konflik AS-Israel vs Iran Berpotensi Dongkrak Harga Minyak, Ini Risikonya Bagi Fiskal RI

Menurut Rizal, dampak awal memang berasal dari lonjakan harga minyak, namun efek tersebut akan menjalar jauh lebih luas. Dia menilai dengan adanya kenaikan harga energi maka bakal meningkatkan biaya distribusi dan produksi, sehingga tekanan inflasi akan semakin kuat.

"Jadi, dampaknya tentu ke inflasi dan kebijakan moneter. Memang, sebagai triggernya adalah dari minyak. Biaya logistik pangan juga akan ter-drive, bahkan harga pupuk dan petrokimia juga akan terdorong. Akibatnya tekanan inflasinya juga akan naik, serta ekspektasi inflasi juga akan terdorong dan tentu akan meningkat," kata Rizal dalam sesi wawancara pada Minggu (1/3/2026).

Baca Juga:
Gejolak Iran Berpotensi Ganggu Pasokan Energi dan Perdagangan RI

Rizal menambahkan, dalam situasi ketidakpastian global seperti ini, pasar keuangan biasanya masuk ke mode risk-off. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS, yang berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca Juga:
Kedubes Iran Apresiasi Inisiatif Prabowo Fasilitasi Mediasi dengan AS

Kondisi tersebut membuat otoritas moneter diperkirakan akan lebih fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dibandingkan melonggarkan kebijakan suku bunga.

"Jadi investor akan pindah ke dolar US, biasanya mata uang emerging market juga akan melemah, padahal situasi kondisi ekonomi dan juga pasar uang kita juga sedang mengalami tantangan cukup berat. Dan bagi otoritas moneter, ini tentu akan menjadi lebih fokus kepada menjaga rupiah daripada menurunkan suku bunga," ujarnya.

Dia juga mengingatkan dampak konflik bukan hanya pada sektor perdagangan, tetapi juga arus modal. Jika inflasi global meningkat akibat lonjakan harga energi, bank sentral negara maju berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga dana asing keluar dari pasar negara berkembang.

Konsekuensinya, rupiah bisa kembali tertekan, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) naik, dan Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi bergerak volatil. Di sisi lain, biaya pembiayaan korporasi juga akan semakin mahal.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tinjau SPPG Karanglo, Ibas Ingin Pastikan Standar Higienitas dan Gizi MBG Terjaga
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
Pertumbuhan Ekonomi Luwu 7,43 Persen, Melenggang di Posisi Ke 2 di Sulsel
• 9 jam laluharianfajar
thumb
AS-Israel Serang Iran, Imigrasi Ngurah Rai Siaga Lonjakan Antrean hingga WNA Overstay
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
Trump Kirim Serangan Paling Mematikan dalam Sejarah AS ke Iran
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Garda Revolusi Iran: Kami akan Balas Kematian Khamenei dengan Telak
• 22 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.