Kabar tragis datang dari seorang pria yang alami kecelakaan fatal dan menyebabkan mobil yang ditumpanginya terbakar hebat. Nahas, nyawanya tidak bisa diselamatkan perkara fitur gagang pintu mobil yang tidak bisa terbuka dan gagal membuatnya menyelamatkan diri.
Disitat Car News China, hasil investigasi yang baru saja dilakukan itu mengungkap bahwa risiko fatalitas kecelakaan mobil listrik Xiaomi yang dikendarai oleh Deng (31 tahun) dengan kecepatan 167 km/jam itu sebenarnya dapat diperkecil.
Hanya saja, gagang pintu baik di luar atau dalam kabin kendaraan tersebut mengutamakan sistem yang sangat mengandalkan mekanisme elektronik arus daya rendah. Ketika kecelakaan, tidak ada suplai daya ke sistem elektronik yang menyebabkan pintu tak terbuka.
Insiden yang terjadi pada pukul 3 pagi waktu setempat juga mengungkapkan bahwa Deng dalam pengaruh alkohol, sehingga mungkin ia tidak bisa fokus untuk menyelamatkan diri sesaat kecelakaan itu terjadi.
Laporan forensik dari Pusat Penilaian Yudisial Transportasi Huaxi, Sichuan mengungkapkan bahwa pertolongan dari luar juga tidak dapat dilakukan karena mobil tersebut menganut jenis gagang pintu yang terlipat bila tidak terpakai dan tidak terdapat tuas konvensional untuk keadaan darurat.
Tim penyelamat pun akhirnya memecahkan kaca, namun tetap perlu mencari tuas pintu mekanis tanpa daya listrik untuk membukannya dan justru menimbulkan lebih banyak waktu untuk evakuasi korban. Belum lagi, regu tersebut dikabarkan sempat mendengar ledakan di bawah mobil.
Pemerintah China akan larang gagang pintu terlipat otomatis dan wajibkan tombol fisikBaru-baru ini Kementerian Industri Transportasi China menerbitkan regulasi yang mengatur tentang kelengkapan dan fitur pada kendaraan baru yang diproduksi mulai 2026. Utamanya fitur gagang pintu otomatis dan kewajiban adanya tombol fisik pengaturan.
Kini, semua kendaraan jenis apa pun yang mengadopsi fitur tersebut harus menyertakan tuas mekanik konvensional untuk situasi darurat. Para produsen diberi waktu selambat-lambatnya pada 2027 untuk model baru dan 2029 untuk model yang sudah telanjur diproduksi.
Regulator memandang, mayoritas perusahaan berjalan ke arah tren semu yang dianggap canggih, namun di baliknya justru mengancam keselamatan berkendara. Beberapa buktinya ditunjukkan lewat serangkaian peristiwa kecelakaan yang melibatkan mobil sejenis.





