Bisnis.com, JAKARTA — Konsensus ekonom memproyeksikan inflasi melonjak pada Februari 2026, baik secara bulanan maupun tahunan.
Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Februari pada Senin (2/3/2026) siang ini.
Sebanyak 14 ekonom yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan median atau nilai tengah IHK pada Februari mengalami inflasi sebesar 0,30% secara bulanan (month on month/MoM). Nilai tersebut melonjak dibandingkan realisasi deflasi sebesar 0,15% MoM pada bulan sebelumnya atau Januari 2026.
Adapun estimasi tertinggi diberikan oleh Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual sebesar 0,48% MoM. Sementara estimasi terendah disampaikan oleh Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana dengan deflasi sebesar 0,11% MoM.
Secara tahunan (year on year/YoY), 24 ekonom memproyeksi median IHK pada Februari berada di zona inflasi sebesar 4,30%. Nilai tersebut naik moderat dibandingkan realisasi inflasi sebesar 3,55% YoY pada Januari.
Estimasi tertinggi terpantau berada di angka 4,54% yang dikeluarkan oleh Ekonom Barclays Bank PLC Brian Tan. Sebaliknya, estimasi terendah di angka 3,75% oleh Ekonom Bank or China HK Ltd Jakarta Brn Ferdrik.
Baca Juga
- Eskalasi Konflik Iran-Israel Berisiko Guncang Perdagangan RI hingga Picu Inflasi
- Harga Cabai Sempat Tembus Rp90 Ribu per Kg di Jatim, Khofifah Wanti-wanti Inflasi
- Premi Asuransi Kesehatan 2025 Minus karena Inflasi Medis Tinggi, Industri Berjibaku Cari Solusi
Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) Andry Asmoro menjelaskan bahwa laju inflasi yang diperkirakan meningkat merupakan cerminan peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat selama Ramadan.
Tim Ekonom Bank Mandiri sendiri memproyeksikan IHK pada Februari 2026 akan mencatatkan inflasi sebesar 0,42% MtM, alias berbalik arah dari posisi Januari yang mencatatkan deflasi sebesar 0,15% mtm.
"Secara tahunan, inflasi umum [headline inflation] diproyeksikan melonjak ke level 4,49% YoY," ungkap Asmo dalam laporan OCE BMRI Macro Preview, dikutip Senin (2/3/2026).
Sebagai perbandingan, inflasi tahunan pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55% yoy, sedangkan pada Februari 2025 sempat terjadi deflasi sebesar 0,09% yoy.
Asmo menjelaskan, tingginya lonjakan inflasi tahunan kali ini didorong oleh efek basis yang rendah (low base effect) dari episode deflasi tahun lalu, tepatnya ketika pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50%.
Lebih rinci, inflasi inti (core inflation) diperkirakan meningkat menjadi 0,5% MtM dari bulan sebelumnya sebesar 0,4% MtM. Kenaikan tersebut dipicu oleh tingginya harga emas serta menguatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama Ramadan dan periode menjelang Hari Raya Idulfitri.
Kemudian, komponen harga pangan bergejolak (volatile food) diproyeksikan mengalami inflasi sebesar 1,5% MtM, setelah pada bulan sebelumnya mencetak deflasi yang lebih dalam yaitu 2,0% MtM.
Asmo menjelaskan pembalikan arah inflasi pangan tersebut didorong oleh naiknya harga cabai rawit, bawang merah, dan minyak goreng, sejalan dengan tren musiman lonjakan permintaan jelang Lebaran.
Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah (administered prices) diramalkan mencatat inflasi sebesar 0,1% MtM, berbalik arah dari posisi deflasi 0,3% MtM pada bulan sebelumnya. Alasannya, sambung Asmo, harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi masih mengalami penurunan rata-rata sekitar 3,1% MtM, tetapi tarif angkutan udara justru terkerek naik hingga 5,3% MtM.
Kendati demikian, pemerintah telah mengimplementasikan kebijakan diskon tiket pesawat sebesar 17% hingga 18% untuk pembelian selama periode 10 Februari sampai dengan 29 Maret 2026 sehingga diyakini mampu menyeimbangi kenaikan tarif angkutan udara tersebut.



