Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah pada level Rp16.868 per dolar AS pada perdagangan awal pekan ini, Senin (2/3/2026). Rupiah melemah bersama mata uang Asia lainnya imbas dari konflik AS-Iran.
Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah ke level Rp16.868 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS menguat 0,82% ke 98,41.
Bersamaan dengan rupiah, sejumlah mata uang Asia lainnya juga ditutup melemah. Yen Jepang melemah 0,69%, dolar Hong Kong menguat 0,02%, dolar Singapura melemah 0,62%, dolar Taiwan turun 0,63%, dan won Korea Selatan turun 1,53% sore ini di hadapan dolar AS.
Lalu peso Filipina melemah 0,92%, yuan China turun 0,33%, ringgit Malaysia melemah 0,90%, dan baht Thailand turun 1,37% sore ini.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan pasar bereaksi terhadap eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah. Pembunuhan tokoh paling berpengaruh di Iran meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas dan potensi gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur energi global yang sangat penting.
Pasukan Israel melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran pada hari Minggu, dengan rudal dan pesawat menargetkan infrastruktur komando dan pertahanan udara. Teheran menanggapinya dengan serangan rudal lebih lanjut ke wilayah Israel dan pangkalan AS di Teluk.
Serangan tersebut membuat kapal-kapal rentan terhadap kerusakan tambahan karena rudal menghantam setidaknya tiga kapal tanker di lepas pantai Teluk dan menewaskan seorang pelaut.
Sebelumnya, putaran ketiga pembicaraan nuklir tidak langsung AS-Iran berakhir di Jenewa pada hari Kamis tanpa kemajuan yang berarti, dengan Washington meningkatkan pengerahan militernya di kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia tidak senang dengan cara Iran bernegosiasi.
Dari dalam negeri, Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia melanjutkan penguatan ke level 53,8 pada Februari 2026 dari bulan sebelumnya yang berada di angka 52,6. S&P Global melaporkan bahwa indeks yang menggambarkan aktivitas manufaktur nasional itu menunjukkan adanya ekspansi solid pada kondisi pengoperasian manufaktur yang merupakan ekspansi terbesar sejak Maret 2024.
Peningkatan PMI manufaktur utamanya didorong oleh percepatan pertumbuhan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Permintaan baru naik selama 7 bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan di posisi paling kuat sejak November 2025.
Berdasarkan laporan peserta survei, jumlah pelanggan naik dan kepercayaan diri membaik. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan total permintaan baru terjadi secara luas, seiring produsen manufaktur Indonesia mencatat kembali peningkatan pesanan ekspor baru untuk pertama kali dalam 6 bulan. Kenaikan pada permintaan ekspor baru merupakan yang paling tajam sejak Mei 2022.
Untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan ditutup melemah pada rentang Rp16.860-Rp16.910 per dolar AS.





