Pernahkah kamu sedang asyik menonton pertandingan sepak bola, lalu tim jagoanmu mencetak gol cepat? Di layar kaca tertera waktu menunjukkan angka 02:41. Namun, sang komentator dengan lantang berteriak, “Gol cepat di menit ketiga”. Bagi sebagian orang, mungkin ini terasa janggal. Angka di depan jelas-jelas masih “02”, kenapa tiba-tiba dibulatkan jadi menit ke-3? Apakah komentatornya salah lihat, atau ada konspirasi pembulatan angka di dunia sepak bola?
Atau pernahkah kamu berpikir, kenapa pada revolusi industri tahun 1780-an disebut sebagai revolusi industri 18. Mengapa tidak revolusi industri abad 17? Bukankah itu terjadi di tahun 1700-an?
Nah jawabannya murni soal bagaimana manusia memahami konsep waktu yang sedang berjalan, dan uniknya ‘ilusi waktu’ di lapangan hijau ini menggunakan logika yang sama persis dengan bagaimana kita menghitung abad dalam sejarah peradaban manusia.
Logika Penyederhanaan ManusiaUntuk memahami konsep menit di sepak bola, kita harus kembali ke titik nol. Saat wasit meniup peluit kick-off, waktu dimulai dari 00:00. Ketika waktu berjalan dari 00:00 hingga 00:59, itu adalah menit pertama pertandingan. Begitu jam menyentuh 01:00, menit pertama telah selesai, dan kita secara resmi memasuki menit kedua (01:00-01:59).
Ketika seorang striker merobek jala gawang pada detik 02:41, pertandingan sebenarnya sudah menyelesaikan dua menit penuh, dan saat ini sedang berada 41 detik di dalam perjalanan menit ketiga.
Analogi paling mudah adalah dengan menggunakan analogi umur manusia. Jika seorang bayi berusia 2 tahun 3 bulan, apakah kita akan mengatakan bahwa bayi tersebut sedang menjalani tahun ke-3 kehidupannya bukan?
Sekarang, mari kita bawa logika lapangan hijau ini ke bangku sekolah, tepatnya ke pelajaran sejarah.
Kita sering membaca bahwa Revolusi Industri terjadi pada Abad ke-18. Tapi saat kita cek tahunnya, peristiwa-peristiwa itu terjadi di rentang tahun 1700-an. Kok bisa angkanya tidak sama? Kenapa bukan tahun 1800-an? Ini penjelasannya.
Logika WaktuSama seperti pertandingan bola yang dimulai dari 00:00, kalender Masehi kita dimulai dari Tahun 1.
Tahun 1 hingga 100 adalah Abad ke-1.
Tahun 101 hingga 200 adalah Abad ke-2.
Tahun 1701 hingga 1800 adalah Abad ke-18.
Jadi, ketika sebuah peristiwa sejarah terjadi pada tahun 1749, itu ibarat gol yang dicetak pada menit 17:01 otomatis dalam papan skor akan tertulis gol di menit 18 bukan 17.
Manusia, Angka Kardinal dan Angka OrdinalMengapa kita sering terkecoh? Ini karena otak manusia punya kecenderungan untuk fokus pada "angka kardinal". Angka kardinal adalah bentuk 1, 2, 3, 4 dan seterusnya, sedangkan angka ordinal adalah angka yang bersifat urutan, misalnya, “Pada abad ke-18 revolusi industri terjadi” bentuk demikian ialah contoh dari angka ordinal
Kesalahan menganggap Abad ke-18 sebagai tahun 1800-an adalah hal yang sangat umum terjadi. Secara psikologis, ini berkaitan erat dengan dominasi angka kardinal dalam cara kita berpikir, otak berpikir dengan logika instan, ada angka 18 > cari tahun yang ada angka 18 nya > 1800-an.
Kenyataannya abad ke-18 adalah tahun 1701, atau rentang tahun 1701-1800 karena sebenarnya yang kita lihat adalah angka ordinal dari "Abad ke-18".
Dalam kehidupan sehari-hari yang serba instan, kita terbiasa dengan sistem digital. Kita melihat angka "2" di stopwatch pada jam dan langsung menyimpulkan itu adalah “dua”. Kita lupa bahwa waktu bukanlah benda padat, melainkan sebuah arus yang terus berjalan.
Jadi, besok-besok kalau ada teman yang protes saat komentator menyebut menit ke-3 untuk gol di waktu 02:41, kamu bisa tersenyum tipis ala borjuis sambil menyeruput kopi, kamu tidak hanya bisa menjelaskan aturan sepak bola, tapi juga memberinya sedikit kuliah sejarah peradaban dunia 3 SKS.





