Ketegangan di Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu gangguan arus perdagangan global, kenaikan biaya pengiriman dan premi asuransi, serta lonjakan harga minyak dunia.
Melansir dari laman The Economic Times pada Senin (2/3/2026), kondisi ini berpotensi meningkatkan tagihan impor dan menekan stabilitas sektor perdagangan serta industri asuransi, khususnya di negara-negara Asia yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Dilaporkan bahwa Iran menutup lalu lintas di Selat Hormuz, jalur sempit sepanjang 33 kilometer yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab. Karena hal itu, sekitar 35–50% impor minyak mentah India dan sebagian besar pengiriman LNG melewati selat tersebut.
Global Trade Research Initiative (GTRI), mengatakan bahwa gangguan di jalur itu akan berdampak langsung pada biaya logistik dan asuransi.
“Gangguan apa pun akan mendorong kenaikan biaya pengiriman dan asuransi, menunda kargo, serta memicu lonjakan harga minyak global yang secara langsung meningkatkan tagihan impor India,” tulisnya.
Dengan adanya gangguan di titik strategis itu disebut berpotensi meningkatkan biaya pengiriman, premi asuransi, dan harga bahan bakar. Pasalnya, hampir seperlima pasokan minyak dunia melewati selat tersebut ke negara tertuju seperti Asia, termasuk China, Jepang, dan Korea Selatan.
Dengan adanya polemik itu, harga minyak bisa naik hingga USD 120–130 per barel. Bahkan, jika ketegangan berlanjut, tekanan inflasi juga bisa dipicu.
Sebagai langkah antisipasi, kilang minyak berpeluang mengalihkan pengiriman melalui jaringan pipa menuju pelabuhan di Laut Merah, meningkatkan pembelian dari Rusia, Amerika Serikat, Afrika Barat, maupun Amerika Latin, serta menggunakan cadangan minyak strategis guna menahan dampak jangka pendek. Sayangnya, opsi tersebut berkonsekuensi pada kenaikan biaya dan waktu distribusi.
Adanya gangguan logistik yang mengganggu jalur krusial internasional itu membuat rute Laut Merah dan selat-selat utama Teluk menghadapi ketidakpastian yang tinggi.
Jika ini berlangsung lama, pengiriman kemungkinan harus memutar melalui Tanjung Harapan, menambah sekitar 15–20 hari waktu tempuh menuju Eropa dan Amerika Serikat.
Pada 2024, ketegangan di Timur Tengah akibat perang Israel-Hamas juga pernah mempengaruhi pengiriman barang dari India melalui rute Laut Merah karena kapal harus mengambil jalur yang lebih panjang untuk mencapai AS dan Eropa.
Baca Juga: Asuransi Komersial Global Diproyeksi Tembus US$1,68 T
Baca Juga: Rupiah Ambles ke Rp16.868, Terseret Perang AS-Iran
Baca Juga: Dampak Perang AS–Iran, 58.873 Jemaah Umrah RI di Arab Saudi Terpengaruh
Kala itu, selat Bab-el-Mandeb menjadi rute krusial yang menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania dengan Samudra Hindia.
Tapi, di tengah tekanan eksternal tersebut, ekspor India naik tipis 0,61% menjadi USD 36,56 miliar pada Januari, sementara defisit perdagangan melebar ke level tertinggi dalam tiga bulan menjadi USD 34,68 miliar. Sementara, impor melesat 19,2% menjadi USD 71,24 miliar pada Januari didorong kenaikan tajam pengiriman emas dan perak





