Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menyoroti meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz menyusul eskalasi konflik Amerika Serikat, Iran, dan Israel. Ia mengingatkan, situasi tersebut berisiko mengganggu pasokan energi global dan memicu kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya bisa berdampak ke Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.
Eddy menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Menurutnya, ketika risiko distribusi meningkat, pasar biasanya merespons dengan kenaikan harga.
"Gejolak di Selat Hormuz bukan hanya isu geopolitik regional tetapi juga memiliki implikasi langsung terhadap harga minyak dunia. Jika harga minyak melonjak tajam, maka tekanan terhadap APBN kita akan semakin besar terutama karena nilai impor yang tinggi dan juga adanya kompensasi energi," ucap Eddy dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
Ia menegaskan ketergantungan impor membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga minyak mentah. Dampaknya tidak hanya pada aspek fiskal, tetapi juga berpotensi menekan daya beli dan meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor.
"Saat ini ketergantungan pada energi fosil dari sumber impor membuat ruang fiskal kita mudah tertekan ketika terjadi krisis global. Karena itu, dalam berbagai kesempatan saya selalu sampaikan bahwa ketahanan energi harus menjadi agenda strategis yang sejajar dengan ketahanan nasional," tegasnya.
Lebih lanjut, Eddy menyebut penguatan ketahanan energi sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) serta memaksimalkan potensi energi domestik.
"Presiden Prabowo telah menegaskan pentingnya mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan serta memaksimalkan potensi energi domestik. Dalam konteks krisis global seperti sekarang, arah kebijakan tersebut terbukti semakin relevan," ujarnya.
Eddy menilai Indonesia punya potensi EBT seperti panas bumi, tenaga surya, hidro, dan bioenergi yang perlu dimanfaatkan lebih optimal. Ia mendorong percepatan investasi serta perbaikan regulasi untuk menekan ketergantungan pada impor minyak.
"Setiap kali terjadi konflik di Timur Tengah, kita selalu dihantui kekhawatiran soal harga minyak. Ini harus menjadi momentum untuk mempercepat transformasi energi. Ketahanan energi adalah bagian dari ketahanan nasional," tegasnya.
Untuk jangka pendek, Eddy juga meminta pemerintah menyiapkan mitigasi agar gejolak global tidak langsung menekan APBN dan masyarakat, termasuk lewat penguatan cadangan energi nasional dan sinkronisasi kebijakan fiskal-energi.
"Pemerintah perlu memastikan bahwa gejolak global tidak langsung membebani masyarakat. Kebijakan fiskal dan energi harus disinergikan agar tekanan eksternal dapat diredam," tutup Eddy.
Simak Video 'Iran: Ada Upaya AS-Israel Menyeret Perang ke Arah Selat Hormuz':
(anl/ega)




