Jakarta (ANTARA) - Menjalankan ibadah puasa di Kuwait tidak membuat Ridho Ramadhan gugup dan kaget dengan tradisi bulan puasa di sana.
Mahasiswa jurusan hadits yang tengah berusaha meraih gelar Magister di Kuwait itu menikmati suasana Ramadhan di negara tersebut dengan penuh kenyamanan seperti di negara sendiri, karena dirinya telah lahir dan besar di negara itu.
Selama menjalankan ibadah di bulan puasa, Ridho merasa pemerintah Kuwait sangat memperhatikan ibadah yang dilakukan oleh masyarakat, terutama pada 10 malam terakhir Ramadhan.
Untuk meningkatkan ibadah warganya, pemerintah Kuwait bahkan mengundang para imam dari luar negeri guna memimpin shalat tarawih dan qiyamul lail (ibadah sunnah pada malam hari) pada 10 malam terakhir di Bulan Ramadhan.
Upaya itu dilakukan karena pemerintah melihat masyarakat Kuwait sangat antusias menjalankan ibadah, terutama di 10 hari terakhir Ramadhan.
"Jadi, mungkin dalam segi ibadah itu, Kuwait bisa dibilang lebih peduli dan lebih perhatian untuk hal itu," katanya.
Secara umum, Ridho merasakan ketenangan dan kesederhanaan yang penuh makna selama menjalankan ibadah puasa di Kuwait.
"Saya tidak bisa terlalu membandingkan
Indonesia karena saya lahir dan besar di sini. Tapi, yang pasti di Kuwait, di sini, bisa dibilang lebih tenang, lebih santai daripada di Indonesia. Di sini, saya merasa lebih kondusif untuk menjalani ibadah," kata Ridho.
Baca juga: Kanji rumbi masih menjadi syiar Ramadhan di Masjid Darussalam Langsa
Tradisi
Di beberapa daerah di Indonesia, masyarakat biasanya menyambut Ramadhan dengan tradisi pawai pada malam hari dengan mengelilingi kompleks permukiman sembari membawa obor atau lilin dan pencahayaan lain, sambil melantunkan shalawat pujian bagi Baginda Rasul Muhammad SAW.
Menjelang Ramadhan, masyarakat Indonesia juga mengenal tradisi Munggahan, di mana para Ibu berbagi makanan dengan para tetangga, ataupun makan bersama dengan mereka dan saling bermaaf-maafan.
Di Kuwait, tradisi pawai tidak ada. Tapi mereka mengenal tradisi berbagi makanan seperti halnya tradisi Munggahan di Indonesia.
Tradisi berbagi makanan itu mereka sebut Naqsah. Masyarakat Kuwait biasanya berbagi makanan dengan para tetangga di dalam satu kompleks perumahan dan dilakukan pada awal Ramadhan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi Naqsah modern tidak hanya membagikan makanan, tetapi juga hadiah-hadiah seperti sajadah dan hadiah kecil lainnya, yang hadiahnya akan dibuka setelah waktu berbuka di awal Ramadhan.
"Jadi, makanan itu bisa dimakan, atau hadiah itu bisa dibuka setelah waktu berbuka," kata Ridho.
Kemudian, tidak seperti masyarakat Indonesia yang biasanya menghabiskan waktu menjelang berbuka dengan Ngabuburit atau mengikuti Kultum (kuliah tujuh menit), masyarakat di Kuwait lebih terbiasa menikmati waktu menjelang buka dengan tetap di dalam rumah.
"Kebanyakan warga Kuwait atau bahkan warga non-Kuwait yang sudah ada di Kuwait itu memilih untuk di dalam rumah," katanya.
Selanjutnya, masyarakat Kuwait juga memiliki tradisi Ghabqa, yaitu bersantap makanan ringan bersama keluarga atau teman setelah shalat tarawih.
Ghabqa dilakukan di dalam lingkungan rumah masing-masing, dan di dalam ruangan khusus yang biasa disebut Diwaniyah, sebuah tempat berkumpul terpisah dari bangunan utama sebuah rumah dan biasanya difungsikan untuk menerima tamu dan acara silaturahmi mingguan.
Di negara itu, ada juga tradisi Qirqi'an -- sebuah tradisi di mana anak-anak, memakai baju adat khas Kuwaiti, kemudian berkeliling ke rumah tetangga, dan mendapat suvenir dari para tetangga.
Tradisi tersebut biasa dilakukan pada pertengahan Ramadhan, dan dijalankan dalam suasana yang syahdu, di mana anak-anak dan remaja biasanya membawa kantong-kantong kecil dan berkeliling rumah untuk mendapat uang, atau hadiah kecil lain.
Di Kuwait, tradisi mudik menjelang Lebaran jarang terjadi karena Kuwait merupakan negara kecil berpenduduk sekitar 4,4 juta jiwa, dengan mayoritas di antaranya adalah warga pendatang, sehingga pergerakan masyarakat banyak dilakukan oleh warga pendatang yang mudik ke negaranya masing-masing saat Hari Raya Lebaran.
"Jadi, mungkin ada kultur mudik, tapi untuk keluarga non-Kuwaiti. Misalnya orang Indonesia yang di Kuwait, keluarga Indonesia di Kuwait sudah merantau, lalu pada saat Lebaran mereka akan mudik balik ke Indonesia," katanya.
Baca juga: Pemprov Kalbar Ikut lestarikan pariwisata budaya Sahur-sahur Mempawah
Makanan
Seperti halnya di Indonesia, di Kuwait juga mengenal banyak kuliner yang biasanya secara khusus disajikan selama bulan puasa.
Makanan-makanan tersebut antara lain Samosa -- camilan gorengan berbentuk segitiga khas Timur Tengah yang biasanya berisi sayuran atau daging dan biasa disajikan sebagai hidangan pembuka saat berbuka puasa.
Ada juga Luqaimat, kue manis khas Kuwait berupa bola tepung goreng yang dilumuri dengan cairan sirup manis di bagian luar, dan juga Kunafa -- makanan manis khas Syam yang sudah menjadi tradisi di Kuwait juga.
Kemudian, minum khas yang biasa dijumpai selama Ramadhan adalah Vimto, cairan sirup pekat berwarna merah yang biasanya dicampur dengan air dingin dan dinikmati saat berbuka puasa.
"Minuman ini sudah seperti tradisi. Di setiap rumah Kuwait itu pasti ada minuman Vimto," kata Ridho.
Setelah menikmati camilan dan minuman, warga Kuwait biasanya akan menyantap makanan utama berupa Majbous, yaitu makanan berat khas Kuwait berupa nasi basmati yang dihidangkan bersama daging ayam.
Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, Hari Raya Iedul Fitri akan dirayakan oleh warga Kuwait dengan membagikan uang Iedul Fitri, atau dikenal dengan nama Ediya.
Ediya biasanya dibagikan oleh orang tua kepada anak atau saudara, bahkan kepada masyarakat umum di sekitar tempat tinggal.
Ramadhan adalah momen untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah wajib dan sunah yang diamalkan di sepanjang bulan suci tersebut.
Menjalani ibadah puasa dengan sederhana tetapi dalam suasana khidmat dan tenang adalah momen penting untuk diraih guna merasakan pengalaman ibadah puasa yang lebih baik dan lebih bermakna.
Ridho menilai bahwa Kuwait merupakan salah satu tempat paling kondusif untuk dapat merasakan semua pengalaman tersebut.
Baca juga: Tradisi roti di Tunisia semakin bersemi di bulan Ramadhan
Baca juga: Berbagai hidangan buka puasa yang populer dari seluruh dunia
Mahasiswa jurusan hadits yang tengah berusaha meraih gelar Magister di Kuwait itu menikmati suasana Ramadhan di negara tersebut dengan penuh kenyamanan seperti di negara sendiri, karena dirinya telah lahir dan besar di negara itu.
Selama menjalankan ibadah di bulan puasa, Ridho merasa pemerintah Kuwait sangat memperhatikan ibadah yang dilakukan oleh masyarakat, terutama pada 10 malam terakhir Ramadhan.
Untuk meningkatkan ibadah warganya, pemerintah Kuwait bahkan mengundang para imam dari luar negeri guna memimpin shalat tarawih dan qiyamul lail (ibadah sunnah pada malam hari) pada 10 malam terakhir di Bulan Ramadhan.
Upaya itu dilakukan karena pemerintah melihat masyarakat Kuwait sangat antusias menjalankan ibadah, terutama di 10 hari terakhir Ramadhan.
"Jadi, mungkin dalam segi ibadah itu, Kuwait bisa dibilang lebih peduli dan lebih perhatian untuk hal itu," katanya.
Secara umum, Ridho merasakan ketenangan dan kesederhanaan yang penuh makna selama menjalankan ibadah puasa di Kuwait.
"Saya tidak bisa terlalu membandingkan
Indonesia karena saya lahir dan besar di sini. Tapi, yang pasti di Kuwait, di sini, bisa dibilang lebih tenang, lebih santai daripada di Indonesia. Di sini, saya merasa lebih kondusif untuk menjalani ibadah," kata Ridho.
Baca juga: Kanji rumbi masih menjadi syiar Ramadhan di Masjid Darussalam Langsa
Tradisi
Di beberapa daerah di Indonesia, masyarakat biasanya menyambut Ramadhan dengan tradisi pawai pada malam hari dengan mengelilingi kompleks permukiman sembari membawa obor atau lilin dan pencahayaan lain, sambil melantunkan shalawat pujian bagi Baginda Rasul Muhammad SAW.
Menjelang Ramadhan, masyarakat Indonesia juga mengenal tradisi Munggahan, di mana para Ibu berbagi makanan dengan para tetangga, ataupun makan bersama dengan mereka dan saling bermaaf-maafan.
Di Kuwait, tradisi pawai tidak ada. Tapi mereka mengenal tradisi berbagi makanan seperti halnya tradisi Munggahan di Indonesia.
Tradisi berbagi makanan itu mereka sebut Naqsah. Masyarakat Kuwait biasanya berbagi makanan dengan para tetangga di dalam satu kompleks perumahan dan dilakukan pada awal Ramadhan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi Naqsah modern tidak hanya membagikan makanan, tetapi juga hadiah-hadiah seperti sajadah dan hadiah kecil lainnya, yang hadiahnya akan dibuka setelah waktu berbuka di awal Ramadhan.
"Jadi, makanan itu bisa dimakan, atau hadiah itu bisa dibuka setelah waktu berbuka," kata Ridho.
Kemudian, tidak seperti masyarakat Indonesia yang biasanya menghabiskan waktu menjelang berbuka dengan Ngabuburit atau mengikuti Kultum (kuliah tujuh menit), masyarakat di Kuwait lebih terbiasa menikmati waktu menjelang buka dengan tetap di dalam rumah.
"Kebanyakan warga Kuwait atau bahkan warga non-Kuwait yang sudah ada di Kuwait itu memilih untuk di dalam rumah," katanya.
Selanjutnya, masyarakat Kuwait juga memiliki tradisi Ghabqa, yaitu bersantap makanan ringan bersama keluarga atau teman setelah shalat tarawih.
Ghabqa dilakukan di dalam lingkungan rumah masing-masing, dan di dalam ruangan khusus yang biasa disebut Diwaniyah, sebuah tempat berkumpul terpisah dari bangunan utama sebuah rumah dan biasanya difungsikan untuk menerima tamu dan acara silaturahmi mingguan.
Di negara itu, ada juga tradisi Qirqi'an -- sebuah tradisi di mana anak-anak, memakai baju adat khas Kuwaiti, kemudian berkeliling ke rumah tetangga, dan mendapat suvenir dari para tetangga.
Tradisi tersebut biasa dilakukan pada pertengahan Ramadhan, dan dijalankan dalam suasana yang syahdu, di mana anak-anak dan remaja biasanya membawa kantong-kantong kecil dan berkeliling rumah untuk mendapat uang, atau hadiah kecil lain.
Di Kuwait, tradisi mudik menjelang Lebaran jarang terjadi karena Kuwait merupakan negara kecil berpenduduk sekitar 4,4 juta jiwa, dengan mayoritas di antaranya adalah warga pendatang, sehingga pergerakan masyarakat banyak dilakukan oleh warga pendatang yang mudik ke negaranya masing-masing saat Hari Raya Lebaran.
"Jadi, mungkin ada kultur mudik, tapi untuk keluarga non-Kuwaiti. Misalnya orang Indonesia yang di Kuwait, keluarga Indonesia di Kuwait sudah merantau, lalu pada saat Lebaran mereka akan mudik balik ke Indonesia," katanya.
Baca juga: Pemprov Kalbar Ikut lestarikan pariwisata budaya Sahur-sahur Mempawah
Makanan
Seperti halnya di Indonesia, di Kuwait juga mengenal banyak kuliner yang biasanya secara khusus disajikan selama bulan puasa.
Makanan-makanan tersebut antara lain Samosa -- camilan gorengan berbentuk segitiga khas Timur Tengah yang biasanya berisi sayuran atau daging dan biasa disajikan sebagai hidangan pembuka saat berbuka puasa.
Ada juga Luqaimat, kue manis khas Kuwait berupa bola tepung goreng yang dilumuri dengan cairan sirup manis di bagian luar, dan juga Kunafa -- makanan manis khas Syam yang sudah menjadi tradisi di Kuwait juga.
Kemudian, minum khas yang biasa dijumpai selama Ramadhan adalah Vimto, cairan sirup pekat berwarna merah yang biasanya dicampur dengan air dingin dan dinikmati saat berbuka puasa.
"Minuman ini sudah seperti tradisi. Di setiap rumah Kuwait itu pasti ada minuman Vimto," kata Ridho.
Setelah menikmati camilan dan minuman, warga Kuwait biasanya akan menyantap makanan utama berupa Majbous, yaitu makanan berat khas Kuwait berupa nasi basmati yang dihidangkan bersama daging ayam.
Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, Hari Raya Iedul Fitri akan dirayakan oleh warga Kuwait dengan membagikan uang Iedul Fitri, atau dikenal dengan nama Ediya.
Ediya biasanya dibagikan oleh orang tua kepada anak atau saudara, bahkan kepada masyarakat umum di sekitar tempat tinggal.
Ramadhan adalah momen untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah wajib dan sunah yang diamalkan di sepanjang bulan suci tersebut.
Menjalani ibadah puasa dengan sederhana tetapi dalam suasana khidmat dan tenang adalah momen penting untuk diraih guna merasakan pengalaman ibadah puasa yang lebih baik dan lebih bermakna.
Ridho menilai bahwa Kuwait merupakan salah satu tempat paling kondusif untuk dapat merasakan semua pengalaman tersebut.
Baca juga: Tradisi roti di Tunisia semakin bersemi di bulan Ramadhan
Baca juga: Berbagai hidangan buka puasa yang populer dari seluruh dunia





