Mukhtarudin Pastikan Negara Siaga, PMI di Timur Tengah Dipantau Real-Time

tvrinews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Krisafika Taraisya Subagio

TVRINews, Jakarta

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, memastikan pemerintah bergerak cepat dan terukur menyikapi eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan, negara tidak menunggu situasi memburuk untuk melindungi pekerja migran Indonesia (PMI).

"Sejak awal eskalasi, kami telah mengaktifkan mekanisme crisis management. Pemantauan dilakukan setiap hari secara terintegrasi bersama Kementerian Luar Negeri dan seluruh Perwakilan Republik Indonesia di kawasan. Negara tidak menunggu situasi memburuk," ujar Mukhtarudin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Selasa, 3 Maret 2026.

Melalui Direktorat Jenderal Pelindungan, Kementerian P2MI membentuk Tim Crisis Monitoring Geopolitik untuk melakukan pendataan dan pemutakhiran data secara real-time terhadap ribuan pekerja migran Indonesia di negara-negara terdampak, termasuk wilayah yang sempat mengalami dampak serangan seperti Qatar dan kawasan sekitar instalasi militer.

Mukhtarudin menegaskan, pemetaan zona berisiko tinggi terus diperbarui guna mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan terukur. PMI diimbau menjauhi titik konflik, pangkalan militer, dan lokasi rawan, serta berpindah ke tempat lebih aman bila diperlukan.

Tak hanya itu, Kementerian P2MI juga memperkuat kanal pengaduan untuk mengantisipasi potensi laporan terkait ancaman keamanan, keterlambatan pembayaran upah, pemutusan hubungan kerja, hingga permintaan repatriasi.

Koordinasi lintas instansi dilakukan secara intensif bersama Perwakilan RI di Teheran, Riyadh, Doha, dan Abu Dhabi. Sinkronisasi data dan penyusunan rencana kontingensi terus dimatangkan, termasuk simulasi evakuasi serta opsi penghentian sementara penempatan ke wilayah berisiko tinggi.

"Kami menyiapkan berbagai skenario, termasuk evakuasi dan pengetatan penempatan. Semua langkah disusun berbasis informasi faktual, koordinasi diplomatik, dan prinsip kehati-hatian," tegasnya.

Selain itu, Kementerian P2MI memperketat pengawasan untuk mencegah penempatan non-prosedural yang berpotensi memanfaatkan situasi krisis. Patroli siber dan penguatan literasi digital juga dilakukan guna mencegah penyebaran informasi yang tidak terverifikasi yang dapat memicu kepanikan.

Kementerian P2MI mengimbau seluruh pekerja migran Indonesia di kawasan Timur Tengah untuk tetap tenang, mengikuti arahan resmi dari Perwakilan RI, serta segera melaporkan kondisi darurat melalui kanal resmi yang tersedia. 

Pemerintah memastikan setiap laporan akan ditindaklanjuti melalui mekanisme pendampingan dan advokasi demi menjamin pelindungan hak-hak pekerja migran Indonesia di tengah dinamika geopolitik global

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Unilever (UNVR) Tuntaskan Divestasi Bisnis Teh Sariwangi Rp1,5 Triliun
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Wall Street Rebound di Tengah Gejolak Konflik AS-Israel dengan Iran
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Indeks KOSPI Korsel Anjlok 7 Persen, Catat Hari Terburuk dalam 19 Bulan
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Peace Through Strength: Menjaga Stabilitas Global Melalui Senjata
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
49 Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika UNM Sukses Raih Sertifikasi Kompetensi Internasional dari Google
• 19 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.