Kementerian Luar Negeri Cina membantah kabar telah memasok sistem pertahanan udara untuk pemerintah Iran. Berdasarkan laporan Reuters, pemerintah Iran hampir menyelesaikan negosiasi pembelian misil kendali anti kapal buatan Cina, CM-302.
Misil supersonic tersebut memiliki jarak tempuh sekitar 290 kilometer dan dirancang untuk menghindari sistem pertahanan udara.
"Setelah serangan yang dipimpin Amerika Serikat, Kemenlu Cina menolak laporan bahwa Beijing akan memasok misil anti kapal supersonik sebagai laporan yang tidak benar," seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (3/3).
Seperti diketahui, pemerintah Cina telah aktif dalam beberapa geopolitik di Asia, seperti konflik Thailand-Kamboja dan India-Pakistan. Namun sejauh ini belum ada bukti senjata buatan Negeri Panda diluncurkan di medan perang konflik Iran-Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, Presiden Cina Xi Jinping telah mengutuk Amerika Serikat karena menyerang ibu kota Iran, Tehran akhir pekan lalu, Sabtu (28/2). Namun Kementerian Pertahanan Cina menolak memberikan respon terkait pernyataan Presiden Xi.
"Sulit untuk mengatakan Cina merupakan pemasok senjata utama untuk Iran. Namun Cina memang memasok teknologi berfungsi ganda ke Iran," kata Peneliti S. Rajaratnam School of International Studies Yang Zi dikutip dari Bloomberg.
Pada tahun lalu, Pentagon telah memperingatkan praktek ekspor teknologi berfungsi ganda oleh Cina ke Iran. Sebab, teknologi tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan misil balistik dan pesawat tanpa awak.
Stockholm International Peace Research Institute mendata Cina telah menjual 11.720 unit misil ke Iran pada 1982-2005. Penjualan misil dihentikan setelah International Atomic Agency menyatakan Iran tidak mematuhi Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir pada September 2005.
Dengan kata lain, Iran tetap meneliti atau membagun senjata nuklir sejak perjanjian berlaku pada 1970. Karena itu, Cina dan seluruh anggota Konsil Keamanan PBB secara mufakat menyetujui embargo ekspor dan impor ke Iran yang berpotensi memiliki hubungan dengan senjata nuklir.
Walau demikian, kesepakatan embargo tersebut dapat dilengkapi dengan teknologi fungsi ganda. Selama delapan tahun terakhir, lebih dari 100 perusahaan berbasis di Cina masuk dalam daftar perusahaan yang membantu penyelewengan embargo ekspor ke Iran.
Komisi Pengkajian Ekonomi dan Keamanan Amerika Serikat dan Cina mendata daftar perusahaan yang melanggar embargo ekspor ke Iran telah mencapai 366 per November 2025.
"Perusahaan asal dan milik warga Cina telah memfasilitasi skema untuk menyelundupkan komponen asal Amerika Serikat maupun negara lain ke Iran," tulis komisi tersebut.




