Observatorium Bosscha menyiapkan siaran langsung pengamatan Gerhana Bulan Total melalui kanal YouTube resminya. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat luas dapat menyaksikan fenomena langit tersebut secara real time meski tidak hadir langsung di lokasi observatorium.
Public Outreach Observatorium Bosscha, Yatny, mengatakan tim telah menyiapkan teleskop yang terhubung dengan sistem kamera digital untuk menampilkan citra bulan secara langsung selama proses gerhana berlangsung.
"Malam ini kami akan mengamati gerhana bulan. Kami menyiapkan siaran langsung pengamatan gerhana melalui kanal YouTube resmi, dengan harapan dapat berbagi pengalaman ini kepada masyarakat luas," ujar Yatny.
Tim Astronom Menjelaskan ProsesnyaMenurutnya, dalam siaran tersebut, tim astronom akan mendampingi publik dengan narasi edukatif yang mudah dipahami. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menyaksikan perubahan visual bulan, tetapi juga memahami proses ilmiah yang terjadi di balik fenomena tersebut.
"Dalam program siaran ini, tim astronom akan hadir mendampingi masyarakat melalui narasi edukatif, sehingga publik tidak hanya menyaksikan fenomenanya, tetapi juga memahami proses ilmiah yang terjadi," katanya.
Untuk pengamatan kali ini, Observatorium Bosscha belum membuka kunjungan bagi masyarakat umum. Pengamatan dilakukan secara internal oleh tim astronom.
“Untuk saat ini belum ada kegiatan untuk publik yang datang ke Observatorium Bosscha. Pengamatan hanya dilakukan oleh tim kami. Untuk masyarakat, kami persilakan menonton via YouTube,” jelas Yatny.
Ia menyebut keputusan tersebut mempertimbangkan kesiapan lokasi dan kapasitas observatorium yang belum sepenuhnya siap menerima kunjungan dalam jumlah besar. Selain itu, karakteristik Gerhana Bulan Total yang mudah diamati tanpa alat khusus justru menjadi alasan agar masyarakat bisa menyaksikannya dari lokasi masing-masing.
“Gerhana Bulan Total aman dilihat dengan mata telanjang dan tidak memerlukan alat khusus. Kami justru mendorong masyarakat untuk melakukan pengamatan dari tempat masing-masing,” ujarnya.
Yatny menjelaskan, daya tarik Gerhana Bulan Total terletak pada kombinasi antara keindahan visual, kemudahan akses, serta makna ilmiah dan sosial yang dikandungnya.
Secara visual, saat fase totalitas, bulan tidak menghilang, melainkan berubah menjadi merah tembaga atau yang dikenal sebagai Blood Moon. Warna tersebut muncul akibat cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami hamburan, sehingga hanya cahaya kemerahan yang diteruskan dan dipantulkan oleh permukaan Bulan.
“Peristiwa sederhana dalam hukum fisika, tetapi menghadirkan pemandangan yang begitu memukau,” kata Yatny.
Dari sisi aksesibilitas, ia menilai Gerhana Bulan Total merupakan fenomena langit yang inklusif karena dapat diamati siapa pun tanpa perlengkapan khusus.
“Siapa pun bisa ikut merasakan pengalaman ini bersama. Ia menjadi fenomena langit yang inklusif,” ujarnya.
Lebih jauh, gerhana juga menjadi sarana pembelajaran langsung tentang mekanisme sistem matahari–bumi–bulan. Publik dapat menyaksikan secara nyata bagaimana bayangan bumi bergerak dan menutupi bulan secara bertahap.
Tak hanya itu, gerhana juga memiliki dimensi reflektif secara sosial.
“Gerhana adalah pengalaman kolektif global. Di tengah berbagai dinamika kemanusiaan, fenomena ini mengingatkan kita bahwa kita berbagi langit dan berbagi satu planet yang sama,” tutur Yatny.
Secara global, gerhana terjadi beberapa kali setiap tahun, baik gerhana Matahari maupun gerhana Bulan. Namun, tidak semua gerhana dapat disaksikan dari satu lokasi yang sama.
“Dalam satu tahun biasanya terjadi minimal empat gerhana, kombinasi gerhana matahari dan bulan. Tetapi dari satu kota tertentu, kita mungkin hanya melihat beberapa tahun sekali,” jelasnya.
Ia menambahkan, gerhana merupakan salah satu fenomena astronomi yang paling presisi dalam perhitungan ilmiah.
“Gerhana termasuk fenomena astronomi yang paling presisi dapat diprediksi, bahkan hingga hitungan detik,” pungkas Yatny.




