Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai mencantumkan harga dan kandungan gizi Makan Bergizi Gratis (MBG). Tidak hanya di media sosial, penjelasan harga dan kandungan gizi juga disisipkan di makanan yang diterima siswa. Informasi itu dimasukkan ke paperbag wadah makanan.
Salah satu yang menerapkannya adalah SPPG Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
"Ada perintah langsung dari BGN baru Sultan memberikan arahan lanjutan (soal mencantumkan harga)," kata Kepala SPPG Margomulyo, Joni Prasetyo, Selasa (3/3).
Joni mengatakan instruksi BGN dan saran dari Sri Sultan merupakan langkah yang baik. Dengan pencantuman harga, publik bisa menilai dan memberi masukan.
"Karena ini juga menjadi wujud keterbukaan informasi publik terkait pengelolaan anggaran negara, tentu perbedaan harga di setiap SPPG beragam bisa lebih mahal atau lebih murah tergantung kualitasnya," katanya.
Selain itu, SPPG Margomulyo, juga mencantumkan keterangan tambahan terkait supplier.
"Supplier produk lokal yang terlibat dalam program ini merupakan para pelaku UMKM, peternak, dan petani yang dihimpun secara kolektif melalui Koperasi Dapur Bumdes Mataram," katanya.
"Kolaborasi ini memastikan roda ekonomi desa bergerak, nilai tambah tetap di daerah, dan kesejahteraan masyarakat meningkat secara berkelanjutan," ujarnya.
Joni mengatakan pemerintah pusat maupun daerah mendorong SPPG menggunakan produk lokal dan menggandeng UMKM, petani, serta peternak.
"Seperti halnya roti home made dari pelaku UMKM , kelengkeng, belimbing dari hasil kebun Bumdes," katanya.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X sebelumnya meminta SPPG untuk mencantumkan harga MBG.
"Jadi kita ajukan syarat ya, tidak sekadar anggapannya itu ini harganya tidak Rp 10.000, ya jadi harapannya itu menunya diperbaiki, tapi juga ada harganya (dicantumkan)," kata Sultan, beberapa waktu lalu kepada wartawan.
"Misalnya dikasih pisang harganya berapa supaya clear, itu kesimpulannya. Sehingga jangan ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang bagi semua pihak nggak nyaman itu saja," ujarnya.





