Grid.ID- Ramadan 2026 sering membuat sebagian orang ragu untuk tetap berolahraga, terutama lari. Kekhawatiran soal dehidrasi, lemas, hingga penurunan gula darah menjadi alasan utama.
Padahal, aktivitas fisik tetap bisa dilakukan selama tubuh dalam kondisi sehat dan dilakukan dengan cara yang tepat. Pengaturan waktu, intensitas, serta strategi hidrasi menjadi faktor krusial agar olahraga tidak mengganggu ibadah.
Mengutip Kompas.com, Selasa (3/3/2026), dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed menjelaskan bahwa olahraga lari dapat dilakukan saat puasa Ramadan 2026 asalkan seseorang memahami kondisi tubuhnya. Menurutnya, secara medis aktivitas lari saat berpuasa tidak dilarang.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa individu sehat tetap dapat melakukan olahraga ringan hingga sedang selama Ramadan 2026 tanpa risiko kesehatan yang signifikan. Ia menegaskan bahwa tujuan olahraga selama puasa sebaiknya untuk menjaga kebugaran, bukan mengejar performa maksimal.
Nah, ada tiga aspek utama yang perlu diperhatikan sebelum berlari saat Ramadan 2026, yakni waktu pelaksanaan, tingkat intensitas, dan kondisi fisik. Namun, jika mengabaikan faktor-faktor tersebut bisa meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan berlebihan, atau penurunan gula darah secara drastis.
Waktu Terbaik untuk Lari Saat Puasa
Terkait waktu pelaksanaan, waktu paling aman untuk berlari selama Ramadan 2026 adalah setelah berbuka puasa. Pada saat itu, tubuh sudah mendapatkan asupan makanan dan cairan sehingga risiko dehidrasi jauh lebih kecil. Aktivitas lari dapat dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang selama 30–45 menit.
Pilihan waktu lain yang cukup ideal adalah menjelang berbuka puasa. Namun, durasi sebaiknya lebih singkat, sekitar 15–30 menit, dan tetap dalam intensitas ringan. Keuntungannya, setelah selesai berlari, tubuh bisa langsung mengganti cairan dan energi saat waktu berbuka tiba.
Sementara itu, berlari setelah sahur masih memungkinkan dilakukan selama Ramadan 2026, tetapi risikonya lebih tinggi. Tubuh harus menahan cairan lebih lama sepanjang hari, sehingga potensi dehidrasi meningkat.
Intensitas Lari yang Disarankan
Dari sisi intensitas, lari saat Ramadan 2026 disarankan berada pada level ringan hingga sedang. Pada intensitas ringan, pernapasan masih teratur, tubuh terasa nyaman, dan masih mampu berbicara dalam kalimat lengkap.
Sedangkan pada intensitas sedang, napas menjadi lebih cepat namun masih bisa dikendalikan, dan hanya mampu mengucapkan beberapa kata saat berbicara. Aktivitas harus segera dihentikan jika muncul gejala seperti lemas, mual, pusing, gemetar, atau rasa haus berlebihan. Tanda-tanda tersebut bisa mengindikasikan dehidrasi atau penurunan kadar gula darah.
Strategi Hidrasi Selama Puasa
Strategi minum air yang tepat sangat menentukan keberhasilan menjaga kebugaran saat Ramadan 2026. Pola 4–2–2 dinilai efektif berdasarkan penelitian di Indonesia, yaitu empat gelas saat berbuka, dua gelas di malam hari, dan dua gelas saat sahur.
Strategi ini membantu tubuh memenuhi kebutuhan cairan harian secara optimal. Penelitian lain di Inggris menunjukkan bahwa minum air dalam jumlah besar sekaligus saat sahur tidak dianjurkan karena cairan akan cepat keluar melalui urine. Oleh karena itu, minum sebaiknya dilakukan secara bertahap dan dikombinasikan dengan makanan.
Selain asupan cairan, kualitas tidur juga memegang peran penting. Mengutip Tribunnews.com, durasi tidur ideal berkisar 7–9 jam per hari. Jika sulit terpenuhi, bisa disiasati dengan tidur malam 4–5 jam yang dilengkapi tidur siang agar stamina tetap terjaga selama Ramadan 2026.
Dengan memperhatikan waktu, intensitas, dan strategi hidrasi yang tepat, olahraga lari tetap aman dilakukan selama Ramadan 2026. Tubuh tetap bugar, ibadah tetap lancar, dan kesehatan pun terjaga tanpa harus menghentikan rutinitas olahraga sepenuhnya. (*)
Artikel Asli




