Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin (3/3) mengatakan bahwa negaranya akan menambah jumlah hulu ledak nuklir yang dimiliki.
Ia menyampaikan hal itu saat berkunjung ke pangkalan militer L &rsquoIle Longue, lokasi penyimpanan kapal selam nuklir Prancis.
Prancis adalah satu satunya negara di Uni Eropa yang memiliki senjata nuklir. Macron sebelumnya sudah menyatakan bahwa Prancis bisa berperan sebagai pelindung nuklir bagi negara-negara Uni Eropa, terutama karena hubungan keamanan dengan Amerika Serikat dinilai semakin tidak pasti.
"Pembaruan arsenal kami adalah hal yang penting," kata Macron. "Saat ini kita berada dalam situasi geopolitik yang penuh gejolak dan risiko."
"Itulah sebabnya saya memerintahkan penambahan jumlah hulu ledak nuklir dalam arsenal kami."
Ia juga mengatakan, "Siapa pun yang ingin bebas harus ditakuti. Siapa pun yang ingin ditakuti harus kuat."
Saat ini, Prancis memiliki sekitar 290 hulu ledak nuklir. Jumlah itu menjadikannya negara dengan kekuatan nuklir terbesar keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, dan Cina.
Namun, Macron tidak menjelaskan berapa banyak tambahan hulu ledak yang akan dibuat.
Ia juga menyebutkan bahwa doktrin nuklir Prancis akan diperluas dengan kerja sama yang lebih erat bersama negara negara Eropa seperti Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, dan Denmark.
Prancis memiliki empat kapal selam bersenjata nuklir yang bisa beroperasi secara tersembunyi di berbagai wilayah laut dunia dengan jangkauan sekitar 10.000 kilometer. Selain itu, Prancis juga memiliki jet tempur Rafale yang dapat meluncurkan rudal jelajah berhulu ledak nuklir dengan jarak sekitar 500 kilometer.
Mengapa Prancis ingin menambah jumlah hulu ledak nuklirnya?Keputusan ini muncul di tengah kekhawatiran negara negara Eropa tentang seberapa jauh mereka bisa mengandalkan "payung nuklir" Amerika Serikat. Payung nuklir adalah kebijakan AS untuk melindungi sekutunya, terutama anggota NATO, dari ancaman nuklir.
Prancis terakhir kali menambah jumlah senjata nuklirnya pada 1992.
Hubungan dengan Amerika Serikat sempat memanas awal tahun ini ketika Presiden AS Donald Trump terlihat ingin mengambil alih Greenland, wilayah milik Denmark yang juga anggota Uni Eropa dan NATO.
Walau kemudian sikap itu berubah, banyak negara Eropa mulai meragukan arah kebijakan Washington ke depan, bahkan setelah masa jabatan Trump berakhir.
Kanselir Jerman Friedrich Merz juga mengatakan bahwa pesawat Angkatan Udara Jerman bisa digunakan untuk mengangkut bom nuklir milik Prancis.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha
width="1" height="1" />
(ita/ita)





