Penulis: Jati
TVRINews, Yogyakarta
Bulan Ramadan, penjualan sajadah dan mukena di Pasar Bringharjo Yogyakarta khususnya untuk produk lokal mengalami peningkatan.
Pada minggu kedua bulan Ramadan, kenaikan penjualannya sudah mencapai 30 persen, di mana dalam sehari rata-rata pedagang dapat menjual sajadah atau mukena sebanyak 1.500 setel. Terbagi atas pemesan rutin secara grosir dari luar kota seperti Surakarta dan pembelian masyarakat umum secara eceran. Peningkatan pembelian ini diprediksi akan meningkat kembali jelang Lebaran.
Selain untuk kebutuhan pribadi, banyak masyarakat mencari alat ibadah ini sebagai bingkisan dalam berbagai kegiatan rohani selama bulan Ramadan.
Menurut pedagang, pembeli banyak dari organisasi keagamaan atau kelompok pengajian yang akan digunakan sebagai bingkisan Hari Raya, bahkan sudah ada yang membeli sajadah dan mukena untuk persiapan beribadah haji.
Untuk sajadah dijual dengan harga mulai dari Rp4 ribu sampai Rp130 ribu. Sementara untuk mukena dimulai dari harga Rp35 ribu sampai Rp50 ribu. Pedagang menjamin kualitas produk sajadah dan mukena lokal ini bersaing dengan produk impor lainnya.
“Tapi kalau kualitas lokal tidak bisa dipungkiri ya, karena produksi lokal itu memang benar-benar bagus daripada produksi luar. Akhirnya semua sama kita mainnya, main pabrik lokal. Main pabrik lokal dan tidak berurusan dengan barang-barang yang berhubungan dengan impor tidak. Barang lokal lebih halus daripada barang impor luar ya. Karena kalau misalnya sajadah mungkin terkenalnya ini dari negara-negara lain mungkin barang lokal itu mirip tapi harganya di bawah standar barang dari impor," ujar penjual sajadah dan mukena di Pasar Bringharjo, David.
Penjualan mukena dan sajadah meningkat signifikan di bulan Ramadan karena adanya peningkatan intensitas ibadah di masyarakat yang memicu kebutuhan perlengkapan baru, serta tradisi membeli barang baru untuk merayakan Hari Lebaran.
Editor: Redaksi TVRINews





