Analisis Khamenei Dipenggal : Mengejutkan Elite Beijing, Xi Jinping Terpukul Keras

erabaru.net
10 jam lalu
Cover Berita

Belakangan ini, Amerika Serikat dan Israel bersama-sama melancarkan operasi militer besar-besaran. Puluhan pejabat tinggi militer dan politik Iran—termasuk diktator Iran Ali Khamenei—dilaporkan tewas dalam operasi “pemenggalan”. Sejumlah analisis menilai, kabar “dilenyapkannya” elite Iran ini mengguncang kalangan elite Beijing, dan khususnya menjadi pukulan besar bagi pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT)  Xi Jinping. Operasi ini disebut bertujuan mendorong pergantian rezim Iran, sesuatu yang paling ditakuti oleh PKT.

EtIndonesia. Pada 28 Februari 2026, Khamenei dilaporkan tewas dalam operasi militer gabungan AS–Israel. Radio nasional Iran mengonfirmasi kabar kematiannya.

Pada 1 Maret, Presiden Trump dalam wawancara dengan berbagai media menyatakan bahwa operasi militer AS di Iran berjalan lancar—bahkan melampaui jadwal—dan 48 pemimpin Iran telah tewas.

Pada hari yang sama, Trump juga menjelaskan:  “Kami telah menyerang ratusan target di dalam Iran, termasuk fasilitas Korps Garda Revolusi dan sistem pertahanan udara Iran. Baru saja kami mengumumkan bahwa dalam hitungan menit kami menghancurkan sembilan kapal beserta markas angkatan lautnya.”

Operasi “Epic Fury” yang dilancarkan AS–Israel diawali dengan serangan mendadak Israel ke Iran, lalu Trump mengonfirmasi dimulainya operasi militer besar dan berkelanjutan. Trump juga menyeru rakyat Iran:
“Waktu kebebasan kalian hampir tiba.”
“Ini mungkin satu-satunya kesempatan bagi beberapa generasi kalian.”
“Ketika kami menyelesaikan misi, kalian akan mengambil alih pemerintahan kalian.”

Menanggapi hal ini, pengamat politik Wang He pada 1 Maret menulis analisis di The Epoch Times bahwa perbedaan terbesar operasi kali ini dibandingkan aksi militer serupa sebelumnya adalah tujuannya mendorong perubahan rezim Islam Iran—dan inilah yang paling ditakuti PKT.

Penulis menilai, setelah perubahan besar di Eropa Timur, rezim komunis yang tersisa di dunia kini hanya PKT, Korea Utara, Kuba, dan Vietnam. PKT dengan susah payah membangun poros dengan Rusia, Iran, dan Venezuela untuk menantang Amerika Serikat. Namun, strategi pemerintahan Trump yang dinilai tajam dan tegas justru memecah aliansi yang susah payah dirajut PKT.

Menurut penulis, serangan militer Trump terhadap Iran dan dorongan perubahan rezim bukan aksi tunggal, melainkan bagian penting dari strategi besar untuk mematahkan satu per satu sekutu PKT, hingga PKT terisolasi. Inilah dampak paling mengguncang dari serangan ke Iran bagi PKT.

Komentator politik Zhou Xiaohui dalam artikelnya juga menyebutkan, ketika banyak warga Tiongkok sudah tidak tahan terhadap pemerintahan otoriter PKT dan mendambakan perubahan, kabar “dilenyapkannya” elite Iran yang dipimpin Khamenei turut mengejutkan kalangan elite Beijing.

Ia menegaskan, bagi siapa pun yang jeli, jelas terlihat bahwa setiap “teman lama” yang didukung kuat oleh PKT berakhir tragis. Ceaușescu, Gaddafi, Saddam Hussein, dan Khamenei tewas; Maduro, Noriega, Mubarak,  dan Milošević dipenjara. Para “teman lama” itu—mati, dipenjara, atau melarikan diri. Sebagai kekuatan di balik layar yang menopang para diktator, mungkinkah PKT berakhir berbeda?

Penulis juga menyatakan, para pejabat tinggi yang “menumpang” di kapal PKT yang rapuh sebenarnya sadar bahwa kapal itu sedang tenggelam makin cepat. Jika mereka terus mengikuti Xi demi mempertahankan partai, maka harta dan nyawa pun terancam. Demi bertahan hidup, satu-satunya jalan adalah mengikuti kehendak rakyat dan arus zaman, bersama-sama meninggalkan Xi dan PKT—barulah ada masa depan yang cerah.

Warganet di platform X berkomentar:
“Melihat pemerintah Iran kian terdesak, Xi Jinping gemetar—giliran dia berikutnya.”
“Di abad ke-21, siapa pun yang menjalankan kediktatoran akan menempuh jalan tanpa kembali!”
“Hidup Amerika Serikat! Hidup rakyat Amerika! Xi dan PKT pasti tumbang!”

Editor : Tang Zheng – NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
RI Ekspor Telur dan Olahan Unggas ke Jepang-Singapura, Nilainya Rp 18 M
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
DPR Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis Tak Kurangi Anggaran Infrastruktur Pendidikan
• 16 jam lalumatamata.com
thumb
Pedro Acosta Gemilang di Thailand, El Tiburon Kini Incar Konsistensi di MotoGP 2026
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Demo Bela Iran, Marinir Amerika Serikat (AS) Tembak Pengunjuk Rasa di Pakistan
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
KPK Gelar OTT Ketujuh 2026 di Jawa Tengah saat Ramadan
• 20 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.