Ibu Korban Ungkap Detik-detik Penembakan Bertrand Eka Prasetyo, Sempat Diseret Polisi

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Keluarga mendiang Bertrand Eka Prasetyo Radiman (19), warga Toddoppuli I Lorong IV, masih terpukul atas peristiwa yang merenggut nyawa remaja tersebut pada Minggu pagi.

Pihak keluarga menduga korban meninggal dunia akibat insiden penembakan saat terjadi keributan di kawasan Toddoppuli Raya.

Suasana duka menyelimuti rumah keluarga korban. Isak tangis pecah ketika sang ibu, Desi Manuhutu, menceritakan bagaimana dirinya pertama kali menerima kabar tentang anaknya.

Saat kejadian, Desi berada di Jakarta dan tidak mengetahui peristiwa yang terjadi di Makassar. Ia mengaku menerima informasi awal dari keluarganya sekitar pukul 11.00 Wita. Saat itu, ia hanya diberi tahu bahwa anaknya berada di rumah sakit akibat keributan.

“Waktu kejadian saya di Jakarta. Awalnya cuma dibilang ada ricuh dan sepupunya ada di rumah sakit, belum dibilang meninggal,” tuturnya dengan suara bergetar.

Tak sampai satu jam kemudian, kabar duka datang. Ia mendapat informasi bahwa anaknya telah meninggal dunia.

Desi mengaku sempat dihubungi pihak kepolisian yang menyampaikan adanya konvoi dan keributan sebelum korban disebut tertembak.

“Saya sempat tanya, kok bisa anakku ketembak? Setahu saya kalau polisi menembak itu ke atas. Saya bilang, berarti ini kesalahan prosedur,” ucapnya.

Ia mengaku tidak berani menonton video yang beredar di media sosial terkait kejadian tersebut. Namun, dari cerita orang-orang di sekitarnya, korban disebut sempat diseret sebelum ditembak.

“Ada videonya katanya sudah viral, tapi saya tidak berani lihat. Katanya sempat diseret-seret juga,” katanya lirih.

Desi tiba di Makassar sekitar pukul 02.00 dini hari dan langsung menuju rumah duka. Jenazah korban, yang sebelumnya dibawa dari Rumah Sakit Bhayangkara, telah berada di rumah setelah menjalani autopsi atas permintaan keluarga.

“Saya minta anakku harus diautopsi. Waktu saya lihat, mukanya sudah bengkak. Di kepala seperti ada benjolan dan di bantalnya ada darah,” ungkapnya.

Ia juga mendengar informasi bahwa sebelum dibawa ke rumah sakit, korban sempat dibawa ke fasilitas kesehatan lain dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri. Menurut cerita yang diterimanya, korban bahkan sempat meminta air minum sebelum kondisinya memburuk.

Bagi Desi, yang terpenting saat ini adalah keadilan bagi anaknya. Ia berharap proses hukum berjalan transparan dan pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai aturan yang berlaku.

“Kalau saya sebagai ibunya, saya tidak terima. Saya mau yang melakukan terhadap anakku itu diproses. Saya cuma mau keadilan,” tegasnya. ($/)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pelatih Persebaya puji mental pemain usai tahan imbang Persib
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
KI DKI sebut Dishub raih predikat Menuju Informatif pada E-Monev 2025
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Melihat Proses Produksi Kue Lebaran Dibalik Lapas Kelas II B Jambi
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dasco Sudah Bicara dengan Prabowo-Agrinas Soal Tunda Impor Mobil India
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Perang Timur Tengah Tak Bisa Diramal Kapan Usai, Bahlil Ungkap Skenario Terburuk RI Alihkan Impor Minyak
• 4 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.