Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran hingga menyebabkan pemimpin tertinggi negara tersebut, Ali Khamenei, gugur. Kini, sebagian perhatian tertuju ke dua negara sekutu Iran, yakni China dan Rusia.
Dilansir BBC, Rusia dan China memiliki hubungan diplomatik, perdagangan, dan militer yang erat dengan Iran. Serangan terbaru AS dan Israel seolah menjadi ujian seberapa jauh kedua negara bersedia memberikan dukungan ke Iran.
Sikap Rusia
Sejauh ini, Moskow telah memberikan pernyataan keras terhadap serangan gabungan AS-Israel ke Iran. Namun, dukungan konkret tetap terbatas.
Sikap itu mencerminkan kemarahan terhadap aksi AS dan Israel sekaligus solidaritas dengan Teheran, sambil berhati-hati agar tidak terseret langsung ke dalam perang.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan 'kekecewaan mendalam' bahwa Washington dan Teheran telah melakukan perundingan, tapi situasi justru 'memburuk menjadi agresi terbuka'.
Dia mengatakan Rusia terus menjalin kontak dengan para petinggi Iran serta negara-negara Teluk yang terdampak perang. Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam AS dan Israel yang disebut melakukan 'agresi tanpa provokasi' terhadap Iran.
Moskow juga menuding praktik pembunuhan politik dan 'perburuan' terhadap para pemimpin negara berdaulat. Pada Minggu (1/3), Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Putin menyebut peristiwa itu sebagai 'pelanggaran terhadap moralitas manusia dan hukum internasional'. Namun, Putin telah menghindari kritik langsung terhadap Presiden AS Donald Trump, bahkan masih menyatakan terima kasih terhadap Washington atas mediasi dengan Ukraina.
(haf/haf)





