Bareskrim Polri Dalami Dugaan Pembiaran Sebelum Anak Nizam Syafei Tewas

rctiplus.com
11 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang (PPA-PPO) Bareskrim Polri melakukan asistensi dalam kasus tewasnya Nizam Syafei (13). Anak tersebut meninggal diduga akibat penganiayaan.

Direktur Tindak Pidana PPA-PPO Bareskrim Polri, Brigjen Nurul Azizah, mengatakan asistensi ini dilakukan agar kasus dapat ditangani secara profesional dan terbuka.

"Dari awal, kami di Mabes Polri sudah mengawal kasus ini melalui asistensi, agar penanganannya profesional," kata Nurul Azizah, Rabu (4/3/2026).

Nurul menambahkan, pihaknya akan mendalami dugaan pembiaran yang dilakukan oleh ayah Nizam saat sang anak sakit sebelum meninggal. Jika terbukti, ayah korban bisa dijerat pidana sesuai KUHP maupun UU Perlindungan Anak.

"Saat ini sedang kami dalami melalui Ditres PPA Polda Jawa Barat, apakah ada indikasi pembiaran atau tidak," ujarnya. 

 

Dugaan pembiaran terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (2/3/2026).

Kuasa hukum ibu kandung Nizam, Mira Widyawati, membeberkan isi pesan singkat dari ayah korban, AS, yang dinilai janggal sebelum Nizam meninggal. Pada 15 Februari 2026, tiga hari sebelum Nizam meninggal, AS menghubungi ibu kandung korban, Lisnawati, melalui pesan singkat, memberitahukan bahwa Nizam sedang sakit.

Namun, jawaban AS terkait pengobatan membuat keluarga heran.

"Chat-nya isinya 'anaknya sakit' dalam bahasa Sunda. Saat ditanya apakah sudah dibawa ke dokter, jawabannya 'Belum'. Kenapa? 'Gak ada waktu'," ujar Mira menirukan percakapan tersebut.

Pada hari yang sama, AS mengirim pesan lain seolah memprediksi kematian Nizam:

"Minta maaf ya kalau misalnya anak ini tidak panjang umur. Mungkin akan dimakamkan di makam keluarga, dekat makam bapaknya atau kakeknya."

Padahal, saat pesan itu dikirim, Nizam masih berada di rumah dalam kondisi kritis. Mira menyebut pihaknya memiliki bukti video yang menunjukkan kondisi Nizam yang parah namun tetap dibiarkan di rumah.

"Kami menganalisis ini sebagai pembiaran atau penelantaran, sengaja tidak dibawa ke rumah sakit," ungkapnya.

Nizam dikabarkan meninggal pada 18 Februari dengan alasan sakit paru-paru. Tragisnya, Lisnawati yang datang dari Cianjur ke Sukabumi tidak sempat melihat wajah putranya karena jenazah sudah dikafani.

Mira juga menyoroti kejanggalan lain, yakni ketidakhadiran ayah Nizam di pemakaman. Selain itu, video viral detik-detik terakhir Nizam saat dirawat menunjukkan korban sempat menunjuk ke arah ibu tirinya sambil mengaku diberi minum air mendidih.

Original Article


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bupati Fadia Arafiq Akui Perusahaan Keluarganya Ikut Pengadaan di Pemkab Pekalongan
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Polda Bali Musnahkan Narkoba Senilai Lebih dari Rp20 Miliar
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
KPK Laporkan Saksi Eks Sekretaris MA soal Pemalsuan Dokumen, Polisi Selidiki
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Korban Penganiayaan Bahar bin Smith Tolak Damai, Minta Pelaku Segera Ditahan
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Leeds United vs Sunderland: Penalti Kontroversial Diarra Bawa The Black Cats Menang Tipis
• 16 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.