Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siang ini, Rabu (4/3) tersungkur 3,50 persen ke level 7.661. Berdasarkan data perdagangan RTI, IHSG dibuka di level 7.896 dan sempat menyentuh posisi terendah 7.639,894.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 682 saham melemah, hanya 65 saham menguat, dan 59 saham tidak berubah. Nilai transaksi tercatat Rp 11,33 triliun dengan frekuensi 1,35 juta kali.
Global Market Economist Maybank Myrdal Gunarto menilai pelemahan tajam ini terutama dipengaruhi sentimen global. Dia melihat investor cenderung menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian geopolitik.
"Faktor utama yang membuat bursa kita ambruk itu adalah dari global ya terkait dengan aksi risk averse atau penghindaran risiko dari investor, baik investor global maupun domestik terkait dengan perkembangan tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah dan memberikan dampak investor asing kelihatannya menghindari untuk investasi di emerging market seperti Indonesia," jelas Gunarto kepada kumparan, Rabu (4/3).
Menurutnya, kondisi ini membuat arus dana asing berpotensi keluar dari pasar negara berkembang (emerging market), sehingga memberi tekanan tambahan pada IHSG.
Selain faktor sentimen, gangguan pasokan minyak akibat konflik juga berdampak langsung pada sejumlah emiten besar, khususnya yang bergantung pada bahan baku energi.
"Beberapa emiten besar banyak yang terdampak terhadap supply bahan baku minyak yang terganggu ya. Kita bisa lihat emiten seperti Chandra Asri lalu juga emiten-emiten yang sejenis lah ya termasuk di situnya ada Petrosea itu kan banyak yang terkena dampak ya," kata Gunarto.
Kenaikan harga energi dan potensi gangguan distribusi dinilai meningkatkan beban biaya produksi dan menekan margin perusahaan, yang pada akhirnya memengaruhi persepsi investor terhadap prospek kinerja emiten.
Meski IHSG terkoreksi cukup dalam, Gunarto menilai kondisi pasar masih terkendali karena belum menyentuh batas penghentian sementara perdagangan (trading halt).
"Karena kan ini juga drop-nya masih 3 persen, belum drop sampai trading halt jadi ya semuanya pasti investor mau cari aman dulu sih," sebut dia.
Secara teknikal, tekanan terhadap IHSG juga terlihat dari indikator pergerakan harga. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut indeks tengah berada dalam tren pelemahan jangka pendek.
"IHSG berada dalam fase minor bearish didukung MA20 & 60 yang membentuk pola bearish crossover. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal negatif serta didukung penurunan volume," kata Nafan.
Dia menjelaskan, konflik AS-Iran berdampak pada kenaikan harga energi global dan memicu kekhawatiran inflasi, sehingga memperkuat sentimen risk-off di pasar keuangan.
"Jika berkepanjangan, perang itu dapat menekan perekonomian sebab ongkos logistik meningkat dan menekan peluang ekspor," tuturnya.
Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, Nafan menyarankan investor lebih selektif dalam memilih saham dan tetap disiplin mengelola risiko.
"Fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid, fokus pada saham bervaluasi murah, fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen risiko dengan disiplin," imbuhnya.





