49 Tokoh Tewas, 40 Tanker Tertahan: Krisis Besar yang Mengguncang Energi Dunia

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 dinilai banyak pihak sebagai operasi “pemenggalan kepala” yang menandai perubahan drastis pola konfrontasi di Timur Tengah. 

Jika sebelumnya Washington dan Tel Aviv lebih mengandalkan strategi pencegahan dan tekanan bertahap, kali ini keduanya melancarkan serangan presisi yang langsung menyasar pucuk pimpinan serta struktur komando militer Iran.

Langkah tersebut disebut telah mengubah “aturan permainan” di kawasan dan memicu efek domino terhadap stabilitas energi global, kalkulasi geopolitik Tiongkok, hingga dinamika keamanan di Asia Timur.

Pertahanan Udara Iran Ditembus dalam Hitungan Jam

Sebelum serangan terjadi, Iran mengoperasikan sistem pertahanan udara berlapis yang mencakup perangkat buatan Rusia seperti S-300 PMU-2 dan Tor-M1, sistem HQ-9B buatan Tiongkok, serta sistem domestik Bavar-373. Secara teori, kombinasi ini dirancang untuk menghadapi ancaman rudal dan pesawat tempur modern.

Namun dalam praktik tempur pada 28 Februari, sistem tersebut menunjukkan kelemahan signifikan. Sejumlah analis militer menilai AS dan Israel menerapkan taktik sistematis:

  1. Melumpuhkan radar peringatan dini lebih dahulu melalui serangan presisi jarak jauh;
  2. Mengacaukan jaringan komando dan kendali dengan perang elektronik;
  3. Menekan daya tembak rudal sebelum melakukan gelombang serangan lanjutan.

Akibatnya, sebagian besar sistem pertahanan kehilangan efektivitas hanya dalam waktu singkat. Beberapa fasilitas militer strategis, termasuk instalasi Garda Revolusi dan pusat komando, dilaporkan hancur atau lumpuh.

Selat Hormuz Bergejolak, 40 Kapal Tanker Tertahan

Ketegangan meningkat tajam setelah Teheran mengambil langkah memblokade Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut serta seperlima gas alam cair global.

Data perusahaan pelayaran Kepler pada 1 Maret 2026 menunjukkan sedikitnya 40 kapal tanker raksasa tertahan di Teluk Persia, masing-masing membawa sekitar dua juta barel minyak mentah. Banyak operator kapal memilih mematikan transponder untuk mengurangi risiko.

Pada 1 Maret, hanya empat kapal tanker yang berhasil melintasi selat tersebut—turun drastis dari 22 kapal sehari sebelumnya. Gangguan ini langsung mengguncang pasar energi global dan memicu lonjakan premi asuransi pengiriman.

Direktur Proyek Iran dari International Crisis Group, Ali Vaez, menilai penutupan total selat justru akan merugikan Iran sendiri dan menjauhkan mitra ekonomi utama, termasuk Tiongkok. Menurutnya, Teheran kemungkinan lebih memilih tekanan selektif terhadap pelayaran guna menaikkan harga energi tanpa sepenuhnya memutus jalur.

Tiongkok Hadapi Tiga Tekanan Besar

Sebagai importir minyak terbesar dunia, Tiongkok mengimpor sekitar 1,38 juta barel per hari dari Iran, setara 12–13 persen impor lautnya. Gangguan pasokan akan berdampak langsung pada stabilitas energi dan inflasi domestik.

Selain itu, perjanjian kerja sama 25 tahun yang ditandatangani Beijing dan Teheran pada 2021—yang mencakup sektor energi, infrastruktur, dan industri—terancam terdampak ketidakpastian politik pasca-serangan.

Sejumlah analis menyebut Beijing kini menghadapi tiga tekanan utama apabila Iran melemah drastis:

  1. Kenaikan harga energi dan risiko inflasi dalam negeri;
  2. Potensi kerugian investasi dalam proyek Sabuk dan Jalan di Timur Tengah;
  3. Peningkatan tekanan geopolitik AS, termasuk di Selat Taiwan dan Laut Cina Selatan.

Pada 2 Maret 2026, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Beijing menegaskan “persahabatan tradisional” kedua negara dan menyatakan keyakinan bahwa Iran mampu menjaga stabilitas nasional.

Sebelumnya, pada 28 Februari dan 1 Maret, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyampaikan “keprihatinan mendalam” serta menyerukan penghentian aksi militer, tanpa secara langsung menyalahkan AS maupun Israel—menunjukkan sikap yang relatif hati-hati.

Dampak Regional: Taiwan hingga Korea Utara

Di Asia Timur, dinamika Timur Tengah turut memicu spekulasi. Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa sejak 28 Februari hingga 2 Maret 2026, selama tiga hari berturut-turut tidak terdeteksi pesawat tempur Tiongkok memasuki zona identifikasi pertahanan udara Taiwan—hanya aktivitas balon dan kapal militer. Pola ini berbeda dari intensitas sebelumnya dan memicu analisis bahwa Beijing tengah melakukan penyesuaian strategis.

Sementara itu, sejumlah pakar menilai perkembangan di Iran dapat memperkuat keyakinan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, mengenai pentingnya pencegahan nuklir. Meski demikian, Pyongyang menyatakan kemungkinan kembali ke meja perundingan bergantung pada sikap Washington.

PBB dan Pernyataan Trump

Pada 28 Februari 2026, Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat. Duta Besar AS untuk PBB menuduh Iran selama ini mengancam stabilitas kawasan dan menyerang kepentingan Amerika serta Israel melalui jaringan proksi.

Pada 1 Maret 2026, Presiden Donald Trump menyatakan operasi militer telah menghantam ratusan target, termasuk fasilitas Garda Revolusi, sistem pertahanan udara, serta sembilan kapal dan instalasi angkatan laut Iran. Ia menyebut total 49 tokoh rezim Iran tewas hingga 2 Maret, dan menegaskan gelombang tekanan belum berakhir.

Trump juga menyerukan agar pasukan Iran meletakkan senjata dan menyampaikan dukungan bagi rakyat Iran yang menginginkan kebebasan.

Dimensi Moral dan Simbolik

Di tengah konflik, Gedung Putih mengumumkan bahwa pada 2 Maret 2026, Presiden Trump akan menganugerahkan Medal of Honor kepada tiga prajurit Angkatan Darat AS atas jasa mereka dalam Perang Dunia II, Perang Vietnam, dan Perang Afghanistan. Langkah ini dipandang sebagai penegasan simbolis mengenai penghormatan terhadap prajurit dan legitimasi moral penggunaan kekuatan militer.

Perubahan Doktrin Perang?

Sejumlah analis militer menilai operasi 28 Februari mencerminkan model perang baru:

Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga mengirim pesan geopolitik yang luas—bahwa dominasi udara dan intelijen tetap menjadi faktor penentu dalam konflik modern.

Memasuki 2 Maret 2026, perang telah memasuki hari ketiga. Dampaknya meluas dari Teluk Persia hingga Asia Timur, menempatkan pasar energi global, stabilitas regional, dan rivalitas kekuatan besar dalam satu pusaran ketidakpastian baru. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bayi Perempuan Sengaja Ditelantarkan di Gerobak Nasi Pasar Minggu
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Ungkap Kondisi Bayi yang Dibuang Ibunya ke Tempat Sampah di Jakut
• 23 jam laludetik.com
thumb
Daftar Nama Lolos Seleksi Administratif Calon Bos OJK Didominasi dari Internal
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Badai Global Ancaman Perang Dunia III dan Alarm Diversifikasi Pangan
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Tanda Kecocokan Finansial dalam Hubungan yang Wajib Dicek
• 3 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.