Badai Global Ancaman Perang Dunia III dan Alarm Diversifikasi Pangan

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Di tengah gelapnya langit Timur Tengah, dunia kembali menahan napas. Serangan udara, ledakan, dan kepulan asap kini menjadi bahasa sehari-hari hubungan Iran dan Amerika Serikat.

Dalam tiga hari terakhir saja, rangkaian serangan balasan antara Washington, Israel, dan Teheran mengguncang kawasan: dimulai dari serangan besar yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan diikuti gelombang misil Iran ke berbagai negara Teluk, termasuk fasilitas sipil seperti Dubai International Airport.

Situasi semakin mencekam ketika berbagai negara mulai menarik warganya dari Iran, menandai meningkatnya eskalasi yang dianggap belum mencapai puncaknya.

Kini, Iran menutup Selat Hormuz. Kapal tanker yang memaksa lewat akan ditembak di tempat. Selat Hormuz merupakan salah satu choke point energi global, dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia.

Ketegangan Iran–AS membuat kawasan ini sangat rentan menjadi arena blokade atau serangan. Indonesia sangat bergantung pada impor minyak mentah dan BBM dari Timur Tengah. Gangguan di Selat Hormuz akan langsung menaikkan harga minyak global.

Dampaknya bagi Indonesia: lonjakan harga BBM, subsidi yang membengkak, dan ancaman goncangan pada ekonomi domestik. Krisis energi berdampak langsung pada rantai pasok pangan, memicu kenaikan harga pangan impor Indonesia seperti gandum, kedelai, dan komoditas pokok lainnya.

Produksi pupuk global sangat bergantung pada gas alam. Gangguan jalur energi di Selat Hormuz akan menaikkan harga gas internasional, memperburuk krisis pupuk yang sudah mendorong penurunan produksi pangan dunia.

Krisis ini sudah terlihat dari laporan global: produksi pertanian di kawasan konflik mengalami penurunan drastis dan kelaparan semakin meluas akibat kombinasi perang serta guncangan harga, memperlihatkan bagaimana perang modern tidak hanya menghancurkan kota, tetapi juga menghancurkan kemampuan manusia untuk sekadar bertahan hidup.

Dan di titik inilah, bayangan Perang Dunia III mulai terlihat bukan dalam bentuk tank dan pasukan infanteri, melainkan melalui perebutan sumber daya paling dasar umat manusia: pangan. Sebuah perang, yang tidak diumumkan secara resmi, tidak dimenangkan oleh kekuatan militer, tetapi ditentukan oleh siapa yang mampu memberi makan rakyatnya.

Seakan bisa membaca alarm konflik global yang memanas ini, pemerintah telah maju satu langkah di depan dengan mempersiapkan sumber daya alam agar tidak bergantung sepenuhnya pada impor dan peningkatan lumbung pangan melalui food estate serta persiapan dapur makanan. Namun sementara mulai belajar berjalan, upaya ini limbung dihantam konflik global yang terjadi lebih cepat.

Isu potensi Perang Dunia III sering muncul dalam perdebatan geopolitik global. Walaupun bersifat hipotetis, potensi krisis yang menyertainya, terutama pada sektor pangan, merupakan ancaman nyata.

Dalam konteks ini, diversifikasi pangan bukan sekadar program ketahanan pangan, melainkan juga strategi ekonomi dan stabilitas nasional. Diversifikasi pangan adalah kebiasaan mengonsumsi berbagai jenis makanan, tidak bergantung pada satu komoditas saja, dan menyesuaikan dengan ketersediaan pangan berbasis kearifan lokal.

Bank Indonesia mencatat dalam berbagai program ketahanan pangan dan stabilitas harga dengan menunjukkan bahwa pangan tidak hanya terkait konsumsi, tetapi juga berkaitan langsung dengan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan ketahanan negara.

Diversifikasi pangan menciptakan cadangan strategi dengan memperluas jenis komoditas yang diproduksi dan dikonsumsi masyarakat. Dengan memperkuat pangan lokal—seperti sagu, sorgum, jagung, talas, dan singkong—risiko terganggunya pasokan impor dapat ditekan.

Selain itu, diversifikasi pangan juga mendorong ekonomi lokal karena akhirnya pangan lokal menciptakan rantai nilai baru yang memperkuat ekonomi daerah. Ketersediaan pangan yang stabil menurunkan risiko gejolak sosial akibat kelangkaan dan kenaikan harga.

Melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), BI bekerja sama dengan pemerintah pusat, daerah, dan berbagai lembaga untuk menjaga stabilitas harga pangan di seluruh daerah Indonesia.

Menurut Gubernur BI, Perry Warjiyo, strategi menjaga ketahanan pangan dilakukan melalui konsistensi, inovasi, dan sinergi, termasuk memperkuat pangan lokal dan meminimalkan ketergantungan pada pasokan luar daerah.

Dengan memperkuat produksi pangan lokal yang beragam, risiko fluktuasi harga akibat gangguan pasokan dapat ditekan. Dalam skenario ekstrem seperti perang global, langkah ini sangat krusial untuk mencegah lonjakan inflasi.

Dengan menyadari bahwa ada bahan pokok pengganti untuk makanan pokok selain beras—yaitu umbi-umbian ataupun bahan pangan lokal termasuk sayur dan buah—inflasi dapat dikendalikan dan lonjakan harga akibat situasi global dapat teratasi.

BI juga menggarisbawahi bahwa penguatan UMKM pangan lokal merupakan bagian dari strategi diversifikasi dan ketahanan ekonomi. UMKM menyerap lebih dari 90% tenaga kerja dan menjadi pilar penting kestabilan ekonomi nasional.

BI mendorong digitalisasi UMKM pangan melalui QRIS dan penguatan akses keuangan, sehingga produk pangan lokal dapat berkembang lebih besar dan menjadi substitusi pangan impor jika situasi global memburuk.

Jika skenario Perang Dunia III terjadi, dampaknya terhadap pangan dan ekonomi akan sangat besar. Namun bahkan tanpa perang, risiko inflasi pangan, perubahan iklim, dan ketegangan geopolitik sudah cukup menjadi ancaman.

Dengan demikian, diversifikasi pangan bukan hanya strategi pertanian, melainkan juga strategi pertahanan ekonomi nasional untuk menghadapi ketidakpastian global, termasuk potensi perang dunia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Yusril: Ambang Batas Parlemen Perlu Dikaji Rasional dan Komprehensif
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cuaca Ekstrem, Dua Kapal Feri Terseret Arus hingga Terdampar di Kupang 
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Konflik Timur Tengah Memanas, Indonesia Siapkan Evakuasi WNI dari Iran
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Pramono Sebut Ada Pengelola Padel Nego Jam Operasional Lebih Malam, Langsung Ditolak!
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Terkait OTT Bupati Pekalongan, KPK Bawa 11 Orang Lain ke Jakarta untuk Diperiksa
• 18 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.