Produksi beras nasional pada Januari-April 2026 diramal turun. Angka kembar produksi beras pada Maret dan April 2025 tak bisa terulang lagi pada 2026. Banjir yang dipicu intensitas hujan tinggi menjadi biang keladinya.
Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Padi Amatan Januari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional pada Januari-April 2026 sebesar 13,98 juta ton. Potensi produksi itu turun 0,18 persen dibandingkan realisasi produksi pada Januari-April 2025 yang sebesar 14,01 juta ton.
Penurunan produksi beras itu seiring dengan berkurangnya luas panen padi. Dalam periode perbandingan yang sama, luas panen padi diramal turun 0,2 persen dari 4,49 juta hektar menjadi 4,48 juta hektar.
Dalam periode Januari-April 2026, potensi produksi beras tertinggi terjadi pada Maret dan April, yakni masing-masing sebesar 5,31 juta ton dan 3,98 juta ton. Ini membuat angka kembar capaian produksi beras pada Maret dan April 2025, yakni sama-sama 5,23 juta ton, tak terulang lagi.
Potensi produksi beras nasional pada Januari-April 2026 sebesar 13,98 juta ton, turun 0,18 persen dibandingkan realisasi produksi pada Januari-April 2025 yang sebesar 14,01 juta ton.
Setiap merilis hasil KSA padi, BPS selalu memberikan catatan. Potensi luas panen serta produksi gabah kering giling dan beras dapat berubah tergantung kondisi terkini tanaman padi. Perubahan itu bisa dipicu sejumlah faktor, seperti serangan hama, banjir, kekeringan, dan waktu realisasi panen.
Sejak November 2025 hingga awal Maret 2026, cuaca ekstrem melanda Indonesia. Intensitas hujan yang tinggi telah menyebabkan banjir dan longsor di beberapa daerah di Indonesia. Sawah menjadi salah satu korbannya.
Pada akhir November 2025, misalnya, banjir dan longsor banjir melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Bencana itu menyebabkan 107.327 hektar lahan pertanian di ketiga provinsi itu rusak berat, sedang, dan ringan. Tanaman padi dan jagung yang gagal panen akibat bencana di Sumatera mencapai 44.600 hektar (Kompas, 15/1/2026).
Kementerian Pertanian telah memulai rehabilitasi sawah-sawah yang terdampak bencana di Sumatera. Per 18 Februari 2026, luasan sawah yang mulai ditanami padi itu telah mencapai sekitar 39.000 hektar (Kompas, 19/2/2026).
Serial Artikel
Memulihkan Pertanian Sumatera, Melepas Hutan Papua
Di Sumatera, 107.327 hektar sawah rusak akibat bencana ekologis. Di Papua Selatan, 328.000 hektar kawasan hutan dilepas untuk swasembada pangan, energi, dan air.
Rehabilitasi sawah itu belum menyeluruh, sehingga luas panen padi dan produksi beras di ketiga provinsi di Sumatera itu berpotensi turun. BPS juga mengonfirmasi hal itu melalui hasil KSA amatan padi. Di antara ketiga provinsi itu, Aceh diramal mengalami penurunan produksi beras paling besar.
Panen padi di Aceh pada Januari-April 2026 diperkirakan seluas 98.181 hektar, berkurang 26,15 persen secara tahunan. Produksi beras daerah tersebut juga diramal turun 29,29 persen secara tahunan menjadi 306.327 ton.
Sumut juga bernasib sama. Potensi luas panen padi susut 16,28 persen secara tahunan menjadi 180.465 hektar. Produksi berasnya juga diproyeksikan tergerus 13,57 persen secara tahunan menjadi 542.081 ton.
Dalam periode perbandingan yang sama, luas panen padi di Sumbar diperkirakan berkurang 9,09 persen menjadi 102.873 hektar. Begitu pun potensi produksi berasnya yang susut 13,59 persen menjadi 279.947 ton.
Tak hanya di ketiga daerah itu, bencana hidrometeorologi, terutama banjir, juga melanda sejumlah daerah sentra beras di Jawa. Banjir yang terjadi pada Januari dan Februari 2026 itu menyebabkan sawah-sawah tergenang dan bahkan puso.
Di Jawa Tengah, pemerintah provinsi tersebut menyebutkan, per 1 Maret 2026, sekitar 17.300 hektar sawah terdampak banjir. Dari luasan itu, sekitar 10.000 hektar sawah mengalami puso. Sawah-sawah itu antara lain berada di Kabupaten Pati, Kudus, Jepara, Demak, Pemalang, dan Purbalingga.
Di Jawa Barat, banjir melanda sejumlah daerah, seperti di Kabupaten Subang, Bekasi, Indramayu. Pemerintah Kabupaten Subang mencatat, per 9 Februari 2026, sawah yang terdampak banjir seluas 8.257 hektar.
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi juga menginformasikan, per 12 Februari 2026, sawah yang kebanjiran seluas 8.693 hektar. Sementara Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu menyebutkan terdapat 10.394 hektar sawah yang terdampak banjir per 3 Februari 2026.
Indonesia sedang dan akan menghadapi tantangan ganda atau duet cuaca ekstrem pada tahun ini.
Banjir akibat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi. Apalagi pada Maret 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi kemunculan tiga bibit siklon tropis yang berada di sekitar wilayah Indonesia. Dalam beberapa hari ke depan, fenomena itu memicu potensi peningkatan curah hujan ekstrem, angin kencang, hingga gelombang tinggi.
Potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat bakal terjadi diperkirakan terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di daerah-daerah lumbung padi nasional. Beberapa di antaranya adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Banten, dan Bali.
Tak cukup berhenti di situ. Pasca hujan ekstrem mereda, musim kemarau ganti melanda. Bahkan. ada potensi terjadinya El Nino yang bakal membuat musim kemarau semakin panjang.
Pada 3 Maret 2026, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB menyebutkan pasca kondisi netral meningkat 60 persen pada Mei-Juli 2026, peluang El Nino diperkirakan meningkat secara bertahap hingga sekitar 40 persen. Sementara Badan Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) memperkirakan ada peluang 50-60 persen El Nino berkembang pada Juli-September 2026.
Sebelumnya, Severe Weather Europe dan Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF) juga meramal terjadinya El Nino. Kedua lembaga tersebut memperkirakan fenomena pemicu kemarau panjang itu bakal terjadi pada Juli 2026 hingga Juli 2027 (Kompas, 6/1/2026).
Semua itu menunjukkan Indonesia sedang dan akan menghadapi tantangan ganda atau duet cuaca ekstrem pada tahun ini. Untuk itu, sembari membenahi kembali sawah-sawah yang terdampak banjir, pemerintah perlu segera menyusun strategi mitigasi dampak El Nino.
Jika tidak, produksi beras nasional pada 2026 berpotensi tergerus atau tak setinggi 2025. Kini, kelanjutan swasembada beras yang berhasil dicapai pada 2025 dipertaruhkan.





