EtIndonesia. Chuck Feeney, Ia lahir di New Jersey, Amerika Serikat, dalam keluarga Katolik keturunan Irlandia yang sederhana. Sejak kecil ia adalah seorang Kristen yang taat.
Di usia 76 tahun, ia tinggal bersama istrinya di sebuah apartemen sewaan satu kamar tidur di San Francisco.
Ia tidak pernah mengenakan pakaian bermerek. Kacamata yang dipakainya sudah usang. Jam tangannya dibeli dari lapak pinggir jalan.
Ia tidak gemar makanan mewah. Favoritnya hanyalah sandwich keju panggang dan tomat yang murah. Ia tidak memiliki mobil pribadi; bepergian biasanya menggunakan bus umum. Tas kerjanya hanyalah tas kain sederhana.
Jika Anda duduk bersamanya di sebuah kedai kecil, ia akan memeriksa tagihan dengan teliti. Jika Anda menginap di rumahnya, sebelum tidur ia akan mengingatkan untuk mematikan lampu.
Anda mungkin bertanya-tanya, apa istimewanya seorang pria tua Amerika yang tampak miskin dan hemat ini?
Mari kita lihat apa yang telah ia lakukan.
Ia pernah menyumbangkan 588 juta dolar AS kepada Cornell University, 125 juta dolar kepada University of California, dan 60 juta dolar kepada Stanford University. Ia menggelontorkan 1 miliar dolar untuk membangun dan merenovasi tujuh universitas di Irlandia dan dua universitas di Irlandia Utara.
Ia mendirikan yayasan amal “Operation Smile” yang membiayai operasi anak-anak penderita bibir sumbing di negara berkembang. Ia juga mengalokasikan dana besar untuk mengendalikan wabah dan penyakit di Afrika.
Hingga kini, ia telah menyumbangkan sekitar 4 miliar dolar—dan masih ada 4 miliar dolar lagi yang siap didonasikan.
Namanya adalah Chuck Feeney—orang yang pelit terhadap dirinya sendiri tetapi sangat murah hati kepada orang lain; orang yang suka menghasilkan uang, namun tidak suka memilikinya.
Dermawan yang Memilih Anonim
Chuck Feeney dikenal sangat rendah hati. Ia adalah tipe filantropis “pertapa” yang sengaja memilih anonim.
Ia mendirikan Atlantic Philanthropies dengan dana mencapai 8 miliar dolar. Yayasan itu bahkan didaftarkan di Bermuda untuk menghindari aturan keterbukaan tertentu di Amerika Serikat.
Nama Feeney tidak tercantum dalam nama yayasan tersebut. Ia bahkan meminta karyawannya untuk tidak memberi tahu keluarga mereka di mana mereka bekerja. Lembaga yang menerima donasi tidak boleh memasang plakat atas namanya. Banyak penerima bantuan bahkan tidak tahu siapa penyumbangnya. Siapa pun yang tahu harus menandatangani perjanjian kerahasiaan.
Baru pada tahun 1997, ketika perusahaan toko bebas pajaknya diakuisisi oleh raksasa barang mewah Prancis Bernard Arnault, publik mengetahui bahwa saham Feeney telah dialihkan ke Atlantic Philanthropies. Jumlah donasinya bahkan melebihi yayasan-yayasan terkenal seperti milik keluarga Rockefeller dan MacArthur.
Selama bertahun-tahun, ia beramal dalam diam. Bahkan yayasan senilai 8 miliar dolar yang ia dirikan tidak memakai namanya sendiri.
Ketika identitasnya terungkap, dunia terkejut.
Namun ia tetap menjaga kesederhanaan. Ia menolak gedung yang dibangun dengan dananya memakai namanya. Ia berkata,
“Yang penting bukan siapa yang membangun gedung itu, tetapi bahwa gedung itu berdiri.”
Hidup Sederhana di Tengah Kekayaan
Feeney pernah memiliki enam rumah mewah di lokasi elit seperti London dan New York. Kini tak satu pun tersisa.
Ia dan istrinya tinggal di apartemen sewaan. Bepergian dengan transportasi umum atau taksi.
Ia menghasilkan hampir 10 miliar dolar dari penjualan barang bebas pajak bermerek, tetapi tidak pernah memakai pakaian bermerek.
Ia berkata,
“Anda bisa makan di restoran mahal dan menghabiskan 100 dolar. Tapi makan seharga 25 dolar pun sudah cukup membuat saya puas.”
Ia memiliki lima anak. Mereka tidak dimanjakan atau diwarisi kekayaan besar. Saat liburan, mereka harus bekerja di hotel, restoran, atau supermarket.
Pernah suatu ketika putrinya membuat tagihan telepon jarak jauh yang besar. Feeney memutus sambungan telepon rumah dan menempelkan peta kota yang menunjukkan lokasi telepon umum terdekat.
Putrinya sempat merasa malu, tetapi kemudian menyadari ayahnya benar.
Anak-anaknya juga mendukung keputusan sang ayah untuk menyumbangkan hampir seluruh hartanya. Mereka berkata,
“Dengan begitu, orang yang menerima bantuan tidak perlu memperlakukan kami secara istimewa.”
Dalam catatan dewan yayasan, Feeney pernah berkata,
“Jika orang kaya tidak menggunakan kekayaannya untuk tujuan yang bermakna selama hidupnya, mereka secara tidak langsung meninggalkan beban bagi generasi berikutnya.”
Saat Uang Menjadi Bermakna
Salah satu program yang ia danai adalah “Operation Smile”, untuk operasi anak-anak bibir sumbing.
Suatu hari, ia melihat seorang gadis kecil yang akan menjalani operasi menutupi mulutnya dengan tangan. Setelah operasi, gadis itu tersenyum—senyum yang seolah berkata, “Aku bukan lagi gadis yang dulu kamu lihat.”
Feeney berkata, pada momen seperti itulah ia merasa kekayaan benar-benar memiliki arti.
Pernah pula seorang pria menghampirinya di restoran dan berkata,
“Saya penerima beasiswa Anda. Sekarang saya menjadi manajer umum jaringan restoran ini.”
Feeney tersenyum bahagia.
Donasinya melintasi batas negara—dari keselamatan lalu lintas bagi anak-anak Vietnam hingga riset kanker di Australia.
Ia berkata,
“Menjadi kaya memang menarik bagi banyak orang. Saya tidak ingin memerintah siapa pun. Saya hanya percaya bahwa jika orang memberi untuk kepentingan umum, mereka akan merasakan kepuasan besar.”
Banyak miliarder seperti Bill Gates dan Warren Buffett menjadikannya teladan dalam filantropi.
Dua Keinginan Terakhir
Feeney memiliki dua keinginan besar:
Pertama, menghabiskan seluruh sisa 4 miliar dolarnya sebelum 2016. Dana itu mengalir lebih dari 400 juta dolar per tahun ke berbagai belahan dunia.
Ia pernah bersumpah,
“Jika uang ini tidak habis dibagikan, saya tidak akan bisa memejamkan mata dengan tenang.”
Kedua, menjadi contoh bagi orang kaya: menikmati hidup sambil memberi kembali kepada masyarakat.
Ketika ditanya mengapa ia ingin menyumbangkan semuanya, jawabannya sederhana:
“Kain kafan tidak memiliki kantong.”
Renungan
Definisi sukses berbeda bagi setiap orang.
Bagi sebagian orang, sukses berarti rumah mewah, mobil mahal, makanan lezat, dan kehidupan nyaman.
Bagi yang lain, sukses berarti mampu membantu lebih banyak orang hidup layak.
Keduanya bisa disebut sukses, tetapi esensinya berbeda: satu untuk diri sendiri, satu untuk orang banyak.
Memang, setiap orang bebas menggunakan hartanya. Namun pertanyaannya adalah: apakah uang itu mengendalikan kita, atau kita yang mengendalikan uang?
Uang tidak dibawa saat lahir, dan tidak dibawa saat mati. Semua orang tahu itu. Tetapi sedikit yang benar-benar memahaminya.
Terlalu banyak uang bisa merusak karakter. Terlalu sedikit empati bisa menghancurkan generasi berikutnya.
Ada pepatah lama dari Lin Zexu:
“Jika anak cucu tidak lebih baik dariku, untuk apa meninggalkan harta? Jika bodoh dan kaya, kekayaan hanya memperbesar kesalahannya. Jika anak cucu lebih baik dariku, untuk apa meninggalkan harta? Jika bijak dan kaya, kekayaan justru melemahkan semangatnya.”
Membaca kisah ini, lalu melihat betapa sering keluarga kaya bertikai karena warisan, hati terasa tersentuh.
Karena pada akhirnya, yang kita tinggalkan bukanlah harta—
melainkan nilai yang kita tanamkan. (Jhon)





