REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah kisah yang diriwayatkan dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga.
Dikisahkan, pada masa Nabi Muhammad SAW, dua perempuan yang berpuasa diminta memuntahkan apa yang telah mereka makan lalu keluarlah darah dan daging mentah dari mulut keduanya. Peristiwa itu menjadi teguran keras bahwa ghibah dan dusta dapat merusak nilai puasa, meski seseorang menahan diri dari makanan dan minuman.
Baca Juga
Perang AS-Israel Vs Iran, Wamenham Mugiyanto Tertahan di Qatar
Panitia Seleksi Umumkan 20 Nama Lolos Administratif Calon Anggota Dewan Komisioner OJK
Langit Menyala di Tanah Persia
Dalam sebuah hadis dikatakan, "Pada masa Rasulullah SAW ada dua orang wanita yang sedang mengerjakan puasa. Pada akhir siang menjelang sore, mereka merasa sangat lapar dan haus. Sehingga hampir-hampir jatuh pingsan.""Lalu salah seorang di antara kedua wanita itu menemui Rasulullah SAW dan meminta izin untuk berbuka."
"Akan tetapi, Rasulullah SAW malah memberi mereka sebuah wadah, sambil berkata kepada mereka: Muntahkanlah ke dalam wadah ini apa yang telah kalian makan."
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Maka muntah salah seorang dari mereka berupa darah dan daging mentah sampai setengah wadah. Lalu muntah pula yang seorang lagi dengan muntahan persis seperti yang pertama, sehingga penuhlah wadah itu dengan muntahan keduanya."
"Seketika merasa heranlah orang-orang yang menyaksikannya."
"Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan: Kedua wanita ini telah berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah Azza wa Jalla, akan tetapi mereka tidak berpuasa terhadap apa yang dilarang oleh Allah. Keduanya suka mengumpat dan menggunjing orang lain yang hukumnya haram, sehingga inilah daging manusia, saudara mereka sendiri, yang telah mereka makan."