Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah pada level Rp16.892 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu (4/3/2026). Rupiah ditutup melemah bersama mata uang Asia lainnya.
Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah ke level Rp16.892 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS stagnan pada level 99,05.
Sementara itu, sejumlah mata uang Asia lainnya ditutup bervariasi. Yen Jepang menguat 0,27%, dolar Hong Kong naik 0,33%, dolar Singapura melemah 0,02%, dolar Taiwan turun 0,26%, dan won Korea Selatan menguat 0,88% sore ini di hadapan dolar AS.
Lalu peso Filipina melemah 0,24%, yuan China menguat 0,11%, ringgit Malaysia naik 0,04%, dan baht Thailand menguat 0,11% sore ini.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan para trader mempertimbangkan risiko pasokan di tengah konflik Timur Tengah yang meluas, ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap militer Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi terus memburuk ketika pasukan Israel dan AS melakukan serangan tambahan terhadap fasilitas yang terkait dengan Iran pada hari Selasa. Iran menanggapi dengan meningkatkan pengerahan militer di Teluk dan mengeluarkan peringatan kepada operator pelayaran global.
Baca Juga
- Kurs Dolar AS BCA, BRI, Mandiri, dan BNI Hari Ini 4 Maret 2025 saat Rupiah Lesu
- Rupiah Tertekan Krisis Timur Tengah, Bank Indonesia Siaga Intervensi di Pasar
- Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Hari Ini (4/3) Makin Tertekan, Sentuh Rp16.916
Teheran juga menargetkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur air sempit yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global. Otoritas Iran bersumpah akan menyerang kapal apa pun yang melewati selat tersebut.
Ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak mentah dari produsen utama termasuk Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, telah menyuntikkan premi risiko geopolitik yang signifikan ke dalam harga minyak.
Mereka mencatat laporan yang mengatakan Irak telah mulai menghentikan produksi di ladang Rumaila, ladang terbesar di negara itu, dan di West Qurna 2, dengan 1,2 juta barel per hari dihentikan produksinya.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan menyediakan pengawalan untuk kapal komersial jika perlu dan menjanjikan dukungan pemerintah untuk menjamin jalur pelayaran yang aman. Meskipun eskalasi militer telah menopang harga, tanda-tanda upaya internasional untuk mengamankan jalur pelayaran dapat meredam kenaikan lebih lanjut dalam waktu dekat.
Dari dalam negeri, Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat kredit jangka panjang mata uang asing (Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating/IDR) tetap di level BBB.
Revisi outlook mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi pengambilan keputusan. Kondisi itu dinilai dapat menekan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, serta memberi tekanan terhadap ketahanan eksternal.
Di sisi lain, Fitch tetap mempertahankan peringkat BBB karena Indonesia dinilai memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Hal itu didukung oleh prospek pertumbuhan jangka menengah, rasio utang pemerintah yang moderat terhadap produk domestik bruto (PDB), serta cadangan eksternal yang masih memadai.
Fitch memproyeksikan defisit fiskal Indonesia pada 2026 akan berada di kisaran 2,9% PDB, lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7%. Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif serta peningkatan belanja sosial, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Adapun untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan rupiah akan ditutup melemah pada rentang Rp16.890-Rp16.940 per dolar AS.
“Kalau Rupiah tembus di Rp17.000 bulan ini, maka target Rp17.400 tahun ini akan tercapai,” ujar Ibrahim.





