Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyoroti maraknya disinformasi kesehatan di media sosial, termasuk konten terkait narasi antivaksin campak, yang dinilai berakibat langsung pada keselamatan anak-anak dan masyarakat.
“Disinformasi itu berbagai hal. Yang paling utama, paling tinggi adalah disinformasi kesehatan. Dan ini kami banyak sekali menerima komplain, masukan dari dokter-dokter dan mereka yang bergerak di sektor kesehatan, terkait misinformasi yang berakibat terhadap hilangnya nyawa anak-anak dan masyarakat,” kata Meutya usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Kantor Meta, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (4/3).
Ia menyebut, isu kesehatan menempati posisi teratas dalam temuan disinformasi yang diawasi pemerintah di ruang digital.
Meutya memastikan narasi antivaksin untuk penyakit campak yang beredar di media sosial, masuk dalam radar pengawasan pemerintah.
“Salah satunya yang kami lihat, atau laporan-laporan temuan yang kami lihat adalah itu. tapi itu hanya salah satunya,” ujarnya.
Menurut Meutya, selain disinformasi kesehatan, ruang digital juga dipenuhi kejahatan digital dan konten yang memicu perpecahan sosial.
“Disinformasi kedua yang paling banyak adalah kejahatan digital, termasuk scamming, penipuan-penipuan digital yang juga menjadi, ya itu tadi, salah satu yang terbanyak laporan-laporannya. Dan ini merugikan tidak hanya orang menengah, tapi di level paling bawah,” jelas Meutya.
“Jadi bayangkan penipuan juga menyasar kepada mereka yang memang hidupnya sudah sulit, tapi juga konten-konten yang terkait digital scamming juga cukup banyak,” lanjutnya.
Ia menambahkan, disinformasi juga berdampak pada meningkatnya polarisasi di masyarakat.
“Yang paling juga utama dan tidak bisa dinafikan, bagaimana masyarakat menjadi terpolarisasi, saling membenci antar satu kelompok dengan kelompok lain, dan merusak rasa persatuan, dan merusak nilai-nilai demokrasi,” kata Meutya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai maraknya hoaks dan disinformasi di media sosial menjadi penyebab utama masih rendahnya kesadaran terhadap bahaya campak dan pentingnya vaksinasi.
“Banyak hoaks dan DFK (Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian) di sosmed,” ujar Budi saat dihubungi kumparan, Rabu (4/3).
Ia menegaskan, dampak hoaks tersebut membuat sebagian orang ragu bahkan menolak vaksin, meski campak merupakan penyakit berbahaya yang dapat dicegah.
“Masih cukup banyak ibu dan ayah yang belum paham bahwa campak bisa mematikan. Dan bisa dicegah dengan vaksin,” kata Budi.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan periode 2025–2026, sebanyak 72 anak Indonesia meninggal dunia akibat campak. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang sangat mudah menular melalui udara, seperti percikan batuk atau bersin.





