JAKARTA, DISWAY.ID - Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia soal ketahanan energi Indonesia hanya mampu bertahan sekitar 20 hari di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran merupakan masalah serius.
Pengamat energi Iwa Garniwa, sebut ketahanan energi di tengah gejolak Timur Tengah jadi alarm serius bagi pemerintah.
BACA JUGA:Bertepatan Nyepi, Takbiran di Bali Disepakati Tanpa Sound System
BACA JUGA:Waspada Takjil Berbahaya, BPOM Temukan Zat Formalin pada Mie Jajanan Kaki Lima
“Pernyataan Menteri ESDM Bahlil tentang ketahanan energi RI yang hanya bertahan 20 hari di tengah konflik AS-Iran memang patut diperhatikan. Ini menunjukkan betapa rentannya Indonesia terhadap gejolak global, terutama dalam hal energi,” ujar Iwa.
Ia menjelaskan, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas pasokan dan harga minyak dunia. Indonesia sebagai negara net importir minyak akan langsung terdampak jika terjadi lonjakan harga maupun gangguan distribusi global.
Dampak pertama yang paling terasa, menurut Iwa adalah kenaikan harga minyak dunia. Konflik AS–Iran berpotensi mendorong spekulasi pasar dan meningkatkan premi risiko, sehingga harga minyak mentah melonjak. Kondisi ini pada akhirnya berdampak langsung terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
BACA JUGA:Sopir Transjakarta yang Sebabkan Adu Banteng di Jalur Langit Koridor 13 Ditetapkan Jadi Tersangka
Kedua, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan meningkat. Jika harga minyak dunia naik signifikan, otomatis beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah juga bertambah. Situasi ini dapat mempersempit ruang fiskal dan mempengaruhi program prioritas lainnya.
Ketiga, dampak lanjutan berupa inflasi dan penurunan daya beli masyarakat. Kenaikan harga BBM berpotensi memicu kenaikan harga barang dan jasa, terutama sektor transportasi dan logistik. Efek berantai tersebut dapat melemahkan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Karena itu, Iwa menekankan perlunya strategi komprehensif untuk meredam dampak konflik global terhadap ketahanan energi nasional. Salah satu langkah mendesak adalah sosialisasi penghematan energi secara masif, terutama di lingkungan pemerintah sebagai pengguna energi besar, disertai ajakan kepada masyarakat dan sektor industri untuk lebih efisien.
BACA JUGA:Pertamina Buka Suara Soal 2 Kapal Minyaknya yang Masih Terjebak di Selat Hormuz
Selain itu, diversifikasi sumber energi harus dipercepat melalui pengembangan energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak. Penguatan cadangan energi strategis juga dinilai penting agar Indonesia memiliki bantalan yang cukup saat terjadi gangguan pasokan.
Iwa menegaskan, pentingnya kebijakan fiskal yang tepat dalam mengelola subsidi energi. Pemerintah perlu memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga tanpa mengorbankan keberlanjutan fiskal jangka panjang. “Oleh karena itu kita perlu membuat strateginya untuk mengatasi dampak tersebut,” tegasnya.





