JAKARTA, DISWAY.ID -- Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) M Qodari membantah kabar yang mengaitkan wafatnya seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Ketahun, Bengkulu Utara, diduga karena keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Qodari menegaskan hasil investigasi menunjukkan tidak ada hubungan antara kematian siswa bernama Fatih dengan konsumsi paket MBG.
“Hasil investigasi menyatakan, ini sudah ada dari kepolisian ya, Badan Gizi Nasional menyatakan bahwa kematian siswa tersebut tidak ada hubungannya dengan program MBG. Fakta di lapangan menunjukkan siswa tersebut sempat pingsan sebelum memakan menu MBG yang diumumkan pada hari itu," kata Qodari di kantornya, Rabu, 4 Maret 2026.
BACA JUGA:Konflik AS-Israel dan Iran Jadi Alarm Ketahanan Energi Indonesia
BACA JUGA:Bertepatan Nyepi, Takbiran di Bali Disepakati Tanpa Sound System
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, CT-scan di Rumah Sakit Bhayangkara menunjukkan adanya pendarahan otak, bukan gejala klinis keracunan makanan.
“Hasil pemeriksaan medis CT-scan di Rumah Sakit Bhayangkara menunjukkan adanya pendarahan otak, bukan gejala klinis keracunan makanan,” jelasnya.
Selain itu, uji sampel laboratorium yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giri Kencana juga menunjukkan hasil negatif.
“Uji sampel laboratorium BPOM menunjukkan hasil negatif terhadap bakteri E. coli maupun cemaran bahaya lainnya,” tegasnya.
BACA JUGA:Archipelago Hadirkan 'Blessings of Ramadan', Diskon 30 Persen Kamar di 124 Hotel
BACA JUGA:Waspada Takjil Berbahaya, BPOM Temukan Zat Formalin pada Mie Jajanan Kaki Lima
Terkait insiden di Bengkulu, pemerintah memastikan setiap dugaan masalah akan ditindaklanjuti dengan serius.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya siswa MIN 2 Ketahun, Bengkulu Utara. Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama pemerintah. Setiap kejadian yang diduga terkait program MBG tidak pernah dianggap remeh dan pemerintah langsung menindaklanjutinya," pungkasnya.




