Berdasarkan pengalaman pribadi, saya menyadari bahwa sedikit barang adalah salah satu kunci hidup bahagia yang penuh ketenangan. Kesadaran itu berawal dari membaca buku Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay. Semakin dalam menyelami isi buku tersebut, semakin besar pula ambisi untuk mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah ini bermula dari sebuah julukan yang saya dapatkan ketika tinggal di asrama: “Doraemon berjalan.” Julukan itu memang terdengar lucu, tetapi juga cukup menohok. Seperti Doraemon yang memiliki berbagai macam benda, saya pun memiliki bejibun barang. Bedanya, Doraemon memiliki kantong ajaib yang mampu menyimpan semuanya dengan rapi, sementara saya memiliki langkah ajaib menyulap bagian atas lemari menjadi gudang bersusun. Parahnya, barang yang paling atas hampir bersentuhan dengan plafon.
Saya merasa semua barang yang ada di lemari itu penting dan suatu saat akan difungsikan. Namun tanpa disadari, kebiasaan menyimpan terlalu banyak barang menjadi pemicu utama munculnya berbagai masalah yang terjadi setiap hari. Barang-barang yang tidak diketahui keberadaannya atau tiba-tiba tidak berada di tempatnya ternyata sering menimbulkan ketegangan emosi.
Saya sering kehilangan waktu hanya untuk mencari ikat rambut yang sepertinya baru saja diletakkan, kunci motor yang tiba-tiba raib, atau gunting yang entah berada di mana. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk belajar, beristirahat, atau melakukan berbagai hal produktif justru habis untuk mencari dan merapikan barang. Belum lagi energi yang terkuras untuk merawat begitu banyak benda yang sebenarnya jarang digunakan.
Pengalaman tersebut membuat saya berpikir ulang tentang status sebuah barang. Dipandu oleh pemikiran Francine Jay, saya mulai belajar memilah barang untuk mengatasi kekacauan. Secara umum, barang diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu barang fungsional, barang dekoratif, dan barang emosional.
Kelompok pertama adalah barang fungsional yang sifatnya praktis dan memang dipergunakan untuk mempermudah hidup. Contoh dari barang fungsional adalah sapu, sisir, dan ransel. Namun, agar bisa berguna, barang harus digunakan. Di beberapa kasus, orang memiliki barang fungsional namun tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Jika seseorang memiliki 20 ransel, mustahil semuanya dipergunakan secara maksimal. Semakin mustahil untuk menuju kehidupan minimalis jika barang fungsional saja jumlahnya bertumpuk-tumpuk.
Kelompok selanjutnya adalah barang-barang yang memuaskan kebutuhan kita dalam bentuk lain. Secara sederhana, barang-barang ini dibeli untuk memanjakan mata dengan berbagai wujud keindahan. Kelompok ini disebut sebagai benda dekoratif dan secara umum kegunaannya sebatas untuk kepentingan estetika saja. Sepanjang sejarah, manusia memang memiliki dorongan untuk memperindah suasana sekitar apalagi terkait tempat tinggal. Dari gambar cap tangan di zaman Batu hingga lukisan gunung di zaman ini, semua itu bersifat dekoratif.
Jika semua barang di rumah adalah barang fungsional dan beberapa barang dekoratif, menjadi minimalis tidak begitu sulit. Hal yang lebih sulit adalah berurusan dengan barang-barang emosional. Dari mana asal-usul benda emosional? Bisa dari hadiah, peninggalan orang tua, perayaan terhadap suatu peristiwa, penghargaan, ataupun kenangan. Barang-barang tersebut sangat mungkin tidak berfungsi dan bahkan tidak juga mencukupi syarat untuk disebut barang dekoratif karena wujudnya yang tidak estetis. Kartu ucapan yang sudah kumal, baju pemberian yang sudah sobek, atau bungkus kado dari seseorang, terkadang masih kita simpan di sudut ruangan dan lama-kelamaan akan menggunung seiring bertambahnya waktu.
Untuk menghasilkan pola hidup minimalis, prinsipnya adalah mempertimbangkan keberadaan seluruh benda tersebut dengan serius. Jika suatu barang memang memiliki kegunaan dan membuat nyaman maka pertahankan. Jika tidak memenuhi keduanya, maka singkirkan.
Memang tidak mudah hidup minimalis terlebih jika kamu memiliki banyak uang dan aktif di media sosial. Media sosial memiliki kekuatan super untuk membentuk manusia menjadi sosok yang konsumtif sepanjang waktu. Iklan yang meyakinkan dan diskon yang menggiurkan pasti sulit ditolak sepenuhnya. Jujur saja, saya sering tergoda membeli bukan karena membutuhkan, melainkan karena takut melewatkan kesempatan. Bagaimanapun, menerapkan rumus hidup minimalis berarti melawan keinginan untuk belanja dan berburu potongan harga.
Di titik inilah, menumbuhkan rasa syukur menjadi syarat wajib dalam cara hidup minimalis. Dengan bersyukur, maka kita akan senantiasa merasa cukup. Mahatma Gandhi pernah berkata, “Kesederhanaan adalah kekuatan sejati. Semakin sedikit yang kita butuhkan, semakin kita benar-benar hidup.” Kutipan ini seolah menegaskan bahwa rasa cukup bukan tanda keterbatasan, melainkan bentuk kebebasan. Ketika kebutuhan tidak lagi terjerat bersama keinginan, kita akan memiliki banyak ruang ataupun waktu untuk hidup dengan lebih leluasa.
Coba kita renungkan seberapa banyak waktu, tenaga, dan pikiran yang dicurahkan untuk suatu barang, mulai dari mencari diskon, membeli barang, belajar menggunakan, mengkondisikan barang untuk disimpan, mengawasi barang dari jangkauan anak-anak atau hewan peliharaan, merawatnya setiap saat, menjaga semuanya agar tetap terkendali, serta memastikan aman ketika dipinjam. Padahal tanpa kita sadari, semua benda itu sedang merenggut kebebasan dan kenyamanan yang kita miliki. Percayalah dengan rumus sedikit barang = sedikit stres.
Pertimbangan lain selain memenuhi ruangan dan membebani pikiran, barang juga bisa menguasai alur keuangan. Kadang dengan membeli satu barang, kita tertarik untuk membeli bagian yang lain agar terasa serasi. Menghabiskan uang hanya untuk menuruti obsesi kita terhadap barang adalah tindakan yang tidak bijak. Ketimbang barang yang tidak terlalu berarti, uang bisa kita gunakan untuk berinvestasi atau mendaftar suatu kursus pelatihan yang hasilnya bisa dimanfaatkan jangka panjang.
Sebenarnya, setiap manusia mampu hidup dengan sedikit barang yang memang benar-benar penting. Buktinya saat kita pergi berkemah, kita hanya membawa benda-benda yang dibutuhkan. Ini adalah bukti nyata bahwa kita sangat bisa hidup minimalis. Coba bayangkan skenario terburuk, misalkan banjir atau kebakaran. Jika musibah tersebut terjadi, maka benda apa saja yang akan kita selamatkan terlebih dulu? Dari sisi ini kita harusnya bisa melihat bahwa sebenarnya barang yang benar-benar penting tidaklah banyak.





