JAKARTA, KOMPAS.com - Warga RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, memasang tiga gerbang dengan akses digital untuk menuju wilayah tempat tinggal mereka.
Ketua RT 11, Imam Basori atau akrab disapa Ibas, mengatakan, satu gerbang dengan akses digital itu memakan biaya sekitar Rp 1,2 juta. Dana tersebut diambil dari biaya operasional yang diberikan pemerintah dan sumbangan warga seikhlasnya.
“Biaya yang kami keluarkan dari alat itu untuk tap-nya itu Rp800.000. Enggak mahal. Paling total semua dengan tetek bengeknya ya kayak stiker, terus lain-lainnya, nah ini paling habis Rp 1,2 juta,” jelas Ibas kepada Kompas.com, Rabu (4/3/2026).
Semua pekerjaan pemasangan pagar dan mesin tap dilakukan secara gotong royong tanpa melibatkan pihak ketiga.
Baca juga: Langkah Inovasi Warga di Gandaria Utara: Pasang Gerbang Akses Digital demi Cegah Curanmor
“Jadi semua mandiri. Kami menggergaji sendiri, motong sendiri, ngelas sendiri. Jadi semuanya tidak menggunakan vendor, tidak menggunakan jasa kontraktor khusus yang profesional,” ungkap Ibas.
Adapun gerbang dengan akses terbatas ini dibuat demi mengantisipasi tindak kejahatan di permukiman warga.
Ibas berharap seluruh lingkungan RW 7 bisa terkoneksi dengan gerbang serupa untuk menjaga keamanan permukiman, khususnya di malam hari.
Saat ini, ia juga sudah membangun komunikasi dengan sejumlah RT yang tertarik dengan inovasi ini. Beberapa orang mengaku kaget saat mengetahui biaya yang dibutuhkan tak sebesar yang mereka bayangkan.
“Mereka bilang, ‘Pak itu harganya berapa?’ Selalu kan yang ditanyakan budget ya. Ya kami berikan, ‘Nih ada link-nya nanti sampean beli sendiri aja. Nanti kalau pas pemasangan, saya pasangin, saya buatin.’ Jadi enggak usah perlu pakai jasa orang,” terang Ibas.
Ketiga gerbang ini diresmikan pada Minggu (1/3/2026). Setiap keluarga yang tergabung dalam satu kartu keluarga diberikan satu kartu akses yang bisa digunakan saat hendak keluar-masuk di atas pukul 00.00 WIB.
Baca juga: Dugaan Penggelapan dan Pencurian di Balik Isu Penyekapan Karyawan Ekspedisi di Sunter
Ibas mengatakan, pihaknya sedang berupaya menambah gerbang serupa di perbatasan-perbatasan gang dengan RT lain.
Setelah semua akses dipasangi gerbang, Ibas juga berencana melakukan pengadaan alat pelacak (GPS) sepeda motor warga untuk mengantisipasi pencurian.
“Next time saya akan kasih dari dana operasional, untuk satu motor satu GPS. Next time itu kalau sudah kelar semua (gerbangnya) baru nanti inovasi baru,” ujar dia.
Ibas mengatakan, beberapa kali terjadi percobaan pencurian yang terjadi di wilayahnya. Pencurian sepeda motor juga beberapa kali terjadi di RT tetangga.
Ibas yang merupakan anggota Polri ini mengatakan, Jakarta Selatan memang masuk dalam zona merah pencurian sepeda motor (curanmr) oleh kepolisian.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




