JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meluruskan persepsi publik terkait kabar stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang disebut hanya bertahan 20 hari.
Bahlil menegaskan, angka tersebut merujuk pada kapasitas penyimpanan (storage) nasional, bukan berarti Indonesia kekurangan minyak.
“Terkait persepsi masyarakat soal cadangan BBM yang disebut 20 hari, perlu saya jelaskan bahwa kapasitas penyimpanan BBM kita memang maksimal sekitar 25 hari. Standar minimal cadangan nasional berada di kisaran 20–23 hari,” kata Bahlil usai menghadap Presiden Prabowo Subianto, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Baca Juga: Bahlil Sebut 70 Persen Impor LPG RI dari AS, Timur Tengah Mulai Dikurangi
Ia menjelaskan, saat ini stok BBM nasional berada di level 23 hari, yang berarti masih berada di atas standar minimal cadangan nasional.
"Saat ini stok BBM kita itu sudah 23 hari. Jadi sudah di atas standar minimal cadangan nasional. Jadi bukan berarti kita kekurangan minyak, tetapi kapasitas storage kita memang terbatas,” ujarnya dikutip dari Breaking News Kompas TV.
Menurut Bahlil, keterbatasan tersebut bukan karena tidak adanya pasokan minyak, melainkan karena infrastruktur penyimpanan yang belum memadai.
Baca Juga: Bahlil: Harga ICP Tembus 78 Dolar Per Barel, Subsidi Energi Terancam Bengkak
Oleh sebab itu, atas arahan Presiden, pemerintah akan membangun fasilitas storage baru agar kapasitas cadangan energi nasional dapat ditingkatkan hingga mencapai tiga bulan.
Ia juga memastikan, hingga saat ini pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman dan belum terdampak dinamika global.
Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- bahlil lahadalia
- menteri esdm
- stok bbm 23 hari
- storage penyimpanan bbm
- tangki penyimpanan bbm





