Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, telah mendapat investor untuk membangun fasilitas penyimpanan (storage) minyak berkapasitas hingga 3 bulan.
Pembangunan storage itu dimaksudkan untuk menampung minyak mentah demi menjaga ketahanan energi nasional, khususnya terhadap gangguan dari dinamika geopolitik global.
Apalagi, kapasitas storage minyak Indonesia saat ini hanya mampu menampung stok untuk 25-26 hari saja. Kapasitas tersebut belum memenuhi standar internasional.
Bahlil mengaku telah mendapat investor untuk membangun storage berkapasitas 3 bulan atau 90 hari itu. Menurutnya, investor itu berasal dari luar negeri dan bakal berkolaborasi dengan perusahaan asal Indonesia.
"Investasinya sudah ada, investornya sudah ada. Sudah siap," ucap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (4/3/2026) malam.
Kendati demikian, Bahlil belum bisa membocorkan berapa nilai investasi untuk membangun storage tersebut. Dia hanya memastikan perusahaan asing yang bakal berinvestasi bukan berasal dari Amerika Serikat (AS).
"Investasinya bisa di-blending antara dalam negeri dan dari luar. Tapi bukan dari AS," katanya.
Ketua Umum Golkar itu juga mengaku telah mendapat restu dari Presiden Prabowo Subianto untuk segera membangun storage tersebut. Hal ini agar Indonesia tidak bergantung pada luar negeri.
"Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera bangun. Supaya apa? Ini kan kita butuh survival. Kalau kita bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya," jelasnya.
Sebelumnya, pembangunan storage menjadi prioritas karena kapasitas penyimpanan nasional saat ini masih terbatas. Proyek tersebut direncanakan berlokasi di Sumatra dan ditargetkan mulai dibangun tahun ini setelah studi kelayakan rampung.
“Pemerintah sedang membangun storage yang kapasitasnya bisa sampai 3 bulan,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).
Keterbatasan storage dinilai menjadi persoalan mendasar dalam memperkuat cadangan energi jangka panjang. Tanpa kapasitas penyimpanan yang memadai, impor dalam jumlah besar tidak akan efektif karena keterbatasan ruang penampungan.
Menurut Bahlil, kondisi tersebut merupakan tantangan struktural yang harus segera dibenahi melalui pembangunan infrastruktur baru agar Indonesia memiliki bantalan energi yang lebih kuat menghadapi gejolak global.
“Kalau impor banyak, kita mau taruh di mana? Itu problem kita dan harus diperbaiki,” tuturnya.
Berdasarkan catatan Bisnis, pemerintah telah melakukan pra-studi kelayakan untuk membangun fasilitas penyimpanan minyak di 18 daerah dengan total nilai investasi Rp72 triliun. Proyek ini direncanakan tersebar di Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Dongala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, dan Fakfak.
Adapun, proyek penyimpanan minyak tersebut menjadi salah satu dari 18 proyek hilirisasi dan ketahanan energi prioritas yang tengah dikaji oleh Badan Pengelola Investasi Danantara.
Selain memperkuat fasilitas penyimpanan, pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas kilang minyak dalam negeri. Targetnya, pada 2027, kilang nasional mampu memproduksi BBM dengan spesifikasi RON 93, 95, dan 98 serta avtur sehingga impor ke depan lebih difokuskan pada minyak mentah (crude) untuk kemudian diolah di dalam negeri guna memenuhi kebutuhan nasional.
Baca Juga
- Pengamat: Pembangunan Storage Minyak Kapasitas 3 Bulan Perlu Libatkan Swasta
- Bahlil Antisipasi Konflik AS-Iran Tak Ganggu Pasokan Energi, Cadangan BBM Masih 23 Hari
- Tambah Ketahanan Stok BBM 3 Bulan, Pemerintah Bangun Storage di Sumatra




