Seorang bayi perempuan yang diperkirakan baru berusia dua hari ditemukan telantar di dalam gerobak nasi uduk di Jalan Pejaten Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (3/3) sore.
Bayi itu pertama kali ditemukan warga setelah mendengar tangisan dari arah gerobak yang terparkir di depan rumah.
Dinda (20), warga yang pertama kali menemukan bayi tersebut mengatakan, saat itu ia sedang berada di lantai dua rumahnya sambil bermain ponsel. Ia kemudian mendengar suara tangisan bayi dari arah luar rumah.
“Aku tuh di atas, main HP, buka TikTok kan. Terus di sini kan emang sepi banget, emang sepi banget, kayak nggak ada orang keluar. Nah, pertamanya tuh aku lagi main TikTok di atas lantai dua, deket jendela,” kata Dinda saat ditemui wartawan di lokasi, Kamis (5/3).
Awalnya tangisan bayi tersebut terdengar pelan. Namun, suara itu lama-lama semakin keras hingga membuatnya curiga.
“Nah, terus aku denger suara bayi. Aku mikir kayak, ‘Perasaan di sini nggak ada bayi deh’, gitu kan,” ujarnya.
Menurut Dinda, tangisan itu terdengar sekitar dua menit sebelum ia akhirnya turun untuk memeriksa sumber suara.
“Tadinya nggak kenceng suara bayinya, kayak biasa aja, oek-oek, tapi lama-lama kenceng kan. Terus ya udah aku langsung ke bawah,” ucapnya.
Saat tiba di depan rumah, ia langsung menuju gerobak nasi uduk yang terparkir di sana karena suara tangisan terdengar dari dalam gerobak tersebut.
“Pas aku buka emang belum ada orang padahal itu udah lumayan lama nangisnya. Aku langsung ke gerobak karena kelihatan langsung ada suara bayinya,” katanya.
Di dalam gerobak tersebut, Dinda menemukan sebuah tas belanja berwarna hitam yang berisi bayi perempuan. Ia mengaku sempat panik ketika pertama kali melihat bayi itu.
“Ya udah tuh, aku langsung ambil. Tangan aku gemeteran pas lagi (melihat bayi), langsung lemes,” ujarnya.
Ia kemudian memanggil kakaknya untuk membantu memeriksa kondisi bayi tersebut.
“Aku manggil kakak aku yang pertama, langsung ke bawah kan. Dia bilang gini, ‘Apaan sih lu, ngapa lu lemes?’ ‘Ini ada bayi!’ kata aku gitu,” kata Dinda.
Bayi tersebut ditemukan dalam posisi miring di dalam tas bersama sejumlah perlengkapan bayi. Dinda mengaku tidak berani langsung memegang bayi tersebut.
“Jadi keadaan bayinya itu udah kayak miring gitu lho. Nah, aku tuh nggak berani kalau misalkan megang bayi. Nah, terus ya udah akhirnya Teh Ulan yang megang,” ujarnya.
Pemilik gerobak nasi uduk sekaligus ibu dari Dinda, Marlina (49), mengatakan tas tersebut berisi berbagai perlengkapan bayi seperti susu formula, pampers, serta tisu basah dan tisu kering.
“Dalemnya perabotan bangsa susu, pampers, terus tisu basah, tisu kering. Jadi tuh di atasnya itu baru bayi,” kata Marlina.
Menurut Marlina, bayi tersebut kemungkinan menangis karena tertindih barang-barang di dalam tas.
“Kayaknya itu miring nangis kayaknya karena miring ketiban. Ketibannya sama pampers doang, ketiban barang yang di dalam tas itu. Jadi nangis,” ujarnya.
Gerobak nasi uduk tersebut diketahui milik keluarga Dinda dan sudah lama tidak digunakan untuk berjualan selama bulan Ramadan sehingga terparkir di depan rumah.
“Kalau buat dagang mah keluar masuk-keluar masuk. Karena bulan puasa saya nggak dagang sebulan, ya udah di sini standby di sini aja,” kata Marlina.
Seorang bayi perempuan ditemukan telantar di dalam gerobak nasi uduk di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Bayi itu diperkirakan baru berusia dua hari dan ditinggalkan bersama sepucuk surat yang diduga ditulis oleh kakaknya.
“Assalamualaikum, Bapak/Ibu yang menemukan adik saya, saya Zidan ingin minta tolong untuk merawat adik saya, karena ibu saya meninggal saat melahirkan, tolong anggap seperti anak sendiri, karena saya tidak akan menemukan atau mengunjunginya dia lagi,” tulis pesan dalam surat tersebut.
Dalam surat tersebut disebutkan pula bayi bernama Ameera Ramadhani dan lahir pada 2 Maret 2026. Penulis surat meminta orang yang menemukan bayi tersebut untuk merawatnya karena ibu mereka meninggal dunia saat melahirkan.
Saat ini bayi tersebut telah dibawa ke Puskesmas Pasar Minggu untuk mendapatkan penanganan medis, sementara polisi masih menyelidiki siapa yang meninggalkannya.




