Jakarta: Di era media sosial, pencitraan kerap menjadi godaan yang sulit dihindari. Banyak orang berusaha menampilkan diri seolah-olah religius, saleh, atau tidak memiliki masalah dalam kehidupan. Fenomena ini sering kali mendorong seseorang untuk membangun citra tertentu agar mendapat pengakuan dari orang lain.
Padahal, kesalehan yang ditampilkan di ruang publik belum tentu mencerminkan kondisi yang sesungguhnya. Dalam pandangan Islam, yang terpenting bukanlah sekadar penampilan luar, melainkan keikhlasan niat dan ketulusan hati di hadapan Allah SWT.
Baca Juga :
Pikiran Penuh, Hati Gelisah? Ini Rahasia Mengatasi Overthinking dalam Islam-Kuliah 3 Menit RamadanMuslim yang otentik adalah mereka yang mampu menyelaraskan isi hati, ucapan, pikiran, dan tindakan. Kejujuran dan integritas tetap dijaga, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihat. Demikian pula dalam beribadah, seorang muslim tetap menjalankannya dengan penuh kesungguhan, baik saat berada di hadapan banyak orang maupun ketika sendirian.
Prinsip ini sejalan dengan ajaran bahwa setiap amal sangat bergantung pada niatnya. Ketika niat tidak tulus dan tidak semata-mata karena Allah SWT, nilai ibadah dapat berkurang bahkan berpotensi kehilangan maknanya sebagai ibadah. Konsistensi dalam Kebaikan Selain niat yang tulus, konsistensi atau istiqamah juga menjadi kunci penting dalam membangun kepribadian muslim yang sejati. Istiqamah berarti tetap menjaga nilai-nilai kebaikan dalam berbagai situasi, tanpa bergantung pada penilaian atau pengawasan orang lain.
Seorang muslim yang otentik tidak menjadikan pujian sebagai tujuan, melainkan menjadikan kebaikan sebagai bagian dari komitmen hidupnya. Menjaga Kerendahan Hati Hal lain yang tidak kalah penting adalah sikap rendah hati. Kerendahan hati menjaga seseorang agar tidak merasa lebih baik dari orang lain, sekalipun memiliki banyak amal kebaikan.
Orang yang rendah hati tidak akan mengumbar ibadah atau amal yang dilakukannya. Ia tetap menjaga kesederhanaan sikap, meskipun mungkin orang lain tidak mengetahui berbagai kebaikan yang telah dilakukan.
Baca Juga :
Terjebak FOMO Saat Ramadan? Begini Cara Menjaga Kualitas Ibadah-Kuliah 3 Menit Ramadan
Sebab, kesalehan yang hanya bersifat pencitraan justru berpotensi merusak nilai-nilai agama itu sendiri. Sebaliknya, ketulusan, konsistensi, dan kerendahan hati menjadi fondasi penting dalam membangun keimanan yang kuat dan bermakna.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.




