Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis data terbaru kasus campak di Indonesia di awal tahun, periode Januari hingga Februari 2026. Total ada 5 kasus kematian akibat campak, semuanya anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi.
"Tahun 2026 hingga Februari, tercatat sebanyak 8.810 suspek dengan 572 kasus konfirmasi laboratorium 5 kematian," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman kepada kumparan, Kamis (5/3).
"Data 2026 menunjukkan sekitar kurang lebih 67% kasus konfirmasi tidak memiliki riwayat imunisasi, dan seluruh kematian terjadi pada bayi atau balita yang belum divaksinasi," imbuhnya Aji.
Kasus campak mencapai puncaknya pada pertengahan Januari 2026 dengan jumlah kasus suspek sekitar 420 kasus dalam sehari. Kasus konfirmasi lab mengikuti pola yang sama, dengan puncak sekitar 40–45 kasus per hari.
Jika dibandingkan dengan peningkatan kasus campak dalam tiga tahun terakhir, tahun 2023-2025, Aji menyebut, kenaikan kasus secara konsisten terjadi pada waktu tertentu seperti menjelang libur akhir tahun dan awal tahun.
Hal ini disebabkan tingginya mobilitas masyarakat yang mempercepat penularan dan juga ketidakmerataan cakupan imunisasi MR.
Antivaksin, Hoaks dan Disinformasi Pengaruhi Cakupan Vaksin
Munculnya keraguan atau antivaksin membuat cakupan imunisasi ini tidak merata.
Menurut Aji, keraguan terhadap vaksin dipicu oleh kekhawatiran terhadap KIPI (kejadian ikutan pasca-imunisasi), izin dari keluarga untuk anak sebelum vaksin, anggapan bahwa imunisasi tidak penting, dan banyaknya kemunculan hoaks atau disinformasi di media sosial.
"Sebagian masyarakat juga masih kurang pemahaman tentang bahaya komplikasi campak, seperti pneumonia, diare berat, hingga kematian turut memengaruhi keputusan sebagian orang tua untuk tidak melengkapi imunisasi anaknya," katanya.
Upaya Kemenkes Perangi CampakKemenkes mempercepat pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak rubella dan Catch Up Campaign yang akan diselenggarakan pada Maret 2026. ORI dilaksanakan di 24 kabupaten/kota yang mengalami KLB Campak pada tahun 2026.
Sementara itu Catch Up Campaign dilakukan di 76 kabupaten/kota yang pernah mengalami KLB pada tahun 2025 maupun peningkatan kasus campak.
"Selain itu juga memperkuat surveilans dan kapasitas laboratorium, memastikan ketersediaan vaksin dan sistem cold chain, menyiapkan ruang isolasi di RS, serta meningkatkan koordinasi pusat hingga daerah," jelasnya.
Kemenkes juga mengintensifkan edukasi tentang campak dan imunisasi, melibatkan para tokoh agama dan tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, kementerian atau lembaga, dan mitra lainnya serta mengklarifikasi hoaks yang beredar untuk meningkatkan kepercayaan dan keterlibatan publik pada imunisasi dan membangun kesadaran untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.




