Retakan tanah terjadi di kawasan Perumahan Graha Sedayu Sejahtera, Sedayu, Bantul, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari. Retakan yang muncul sejak Jumat (27/2) itu menyebabkan jalan amblas sekitar 50 sentimeter serta merusak sejumlah bangunan di sekitarnya.
Salah satu warga, Mulyono (54), mengatakan rumahnya yang berada di dekat titik retakan mengalami kerusakan pada tembok, plafon, dan keramik lantai. Ia mulai menempati rumah tersebut sekitar empat hingga lima tahun lalu.
“Beberapa di rumah pecah-pecah dinding sama keramiknya. Atap plavon bareng juga pecahnya karena ketarik dari bawah,” kata Mulyono ditemui di area rumahnya, Kamis (5/3).
Meski khawatir, ia belum memilih pindah dari rumah tersebut. Rumah itu masih dalam proses cicilan dan menjadi satu-satunya tempat tinggal yang ia miliki.
“Saya ambil ini 12 tahun yang lalu, tapi baru pindah ke sini 4-5 tahun yang lalu. Nggak nyangka (akan ada retakan),” kata Mulyono.
“Belum sih (belum memilih pindah). Saya masih optimis perbaikan masih bisa. Kalau ada aliran pinjaman atau bantuan dari developer atau pemerintah kemungkinan perbaikan rumah. Masalahnya belum lunas juga, masih beberapa tahun lagi,” ujarnya.
Akibat retakan tersebut, satu keluarga di perumahan itu terpaksa mengungsi secara mandiri karena sebagian besar rumahnya amblas. Selain itu, dua rumah mengalami keretakan dan penurunan fondasi, serta satu tiang listrik terlihat miring. Selain itu, satu masjid di dekat lokasi juga ikut mengalami retakan.
Suara Keramik Pecah Hampir Tiap Hari
Ketua takmir Masjid Al Ittihad yang berada di dekat lokasi retakan, Agung Widiyarto (57), mengatakan kerusakan mulai terlihat setelah hujan lebat mengguyur kawasan tersebut beberapa hari berturut-turut.
Menurutnya, selain retakan tanah, suara keramik pecah hampir setiap hari terdengar dari bangunan yang terdampak.
“Kalau untuk sini suara keramik pecah saja, untuk pergeseran tanah atau penurunan tanah nggak ada suara. Keramik pecah, itu hampir tiap hari bisa dikatakan ada terus suara keramik pecah,” kata Agung ditemui Pandangan Jogja di lokasi, Kamis (5/3).
Retakan tanah juga berdampak pada Masjid Al Ittihad. Tembok dan lantai di beberapa bagian mengalami keretakan sehingga sebagian area masjid untuk sementara tidak digunakan.
Pengurus memasang garis pembatas dan mengosongkan beberapa ruangan seperti dapur, kamar marbot, serta serambi di sisi yang terdampak. Meski demikian, aktivitas ibadah masih berlangsung dengan memanfaatkan bagian bangunan yang dinilai aman.
Bukan Kejadian Pertama
Agung yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak 2009 mengatakan area perumahan dulunya merupakan tanah urug. Ia juga menyebut peristiwa serupa pernah terjadi sekitar setahun lalu.
“Saya di sini sudah 2009, sebelumnya (area retakan) itu tanah urug,” ujarnya.
Menurutnya, kejadian sebelumnya hanya berdampak pada area lapangan dan beberapa rumah warga, sehingga tidak sampai merusak bangunan masjid seperti saat ini.
“Kejadian itu, ini yang kedua kali. Dulu sekitar setahun yang lalu itu juga kejadian yang sama tapi hanya sekitar lapangan sama beberapa rumah. Enggak sampai ke masjid,” ujarnya.
Warga kini menunggu penanganan dari pihak pengembang maupun pemerintah daerah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) disebut telah melakukan survei di lokasi untuk menilai kondisi tanah dan potensi risiko lanjutan.
Sementara itu, warga juga sempat memasang ban bekas secara swadaya sebagai penahan di area yang longsor karena di bawah lokasi retakan terdapat aliran sungai kecil dan bekas longsoran.
“Ban itu dari warga, swadaya, bukan dari pengembang. Itu karena kemarin longsor jadi bikin penahan pakai ban,” ujarnya.





