Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menanggapi klaim yang menyebut kemampuan rudal Iran telah melemah.
Ia menilai kekuatan militer suatu negara tidak dapat dipastikan oleh pihak luar, karena hanya situasi di medan perang yang dapat membuktikannya.
“Hanya medan perang yang akan menentukan siapa yang akan habis amunisinya,” kata Boroujerdi di kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3).
Ia menegaskan tidak ada pihak yang benar-benar mengetahui jumlah maupun kekuatan rudal yang dimiliki setiap negara.
“Tidak ada yang mengetahui secara persis seberapa kekuatan rudal dan berapa jumlahnya dari setiap negara,” ujarnya.
Boroujerdi menambahkan, Iran tidak hanya memiliki persediaan rudal dan amunisi, tetapi juga jaringan produksi persenjataan konvensional yang tetap aktif.
“Kami bukan hanya memiliki jumlah rudal dan amunisi yang banyak, tetapi pada saat bersamaan, jaringan produksi persenjataan konvensional di negara kami juga berlangsung aktif,” ucap Boroujerdi.
“Presiden Amerika itu hanya ingin menyampaikan cita-citanya saja,” lanjutnya.
Sebelumnya, tentara Israel menyatakan telah melakukan operasi udara terbesar dalam sejarahnya. Mereka mengeklaim mengerahkan 200 jet tempur untuk menyerang sistem rudal dan pertahanan udara Iran di wilayah barat dan tengah negara tersebut.
Operasi itu disebut sebagai “lintas terbang militer terbesar dalam sejarah” angkatan udaranya.
Militer menyebut jet-jet tempur tersebut menjatuhkan ratusan amunisi yang menargetkan sekitar 500 sasaran, termasuk sistem pertahanan udara dan peluncur rudal di berbagai lokasi di Iran, secara bersamaan.
“Serangan terhadap sistem pertahanan tersebut memungkinkan perluasan superioritas udara IAF di wilayah udara Iran, serta secara signifikan melemahkan kemampuan ofensif rezim Iran—khususnya lokasi peluncuran di Iran barat,” demikian bunyi pernyataan tersebut, dilansir Al Jazeera, Minggu (1/3).





