CIREBON, DISWAY.ID— Tradisi membangunkan warga untuk sahur masih terus dijaga oleh para pemuda di Desa Dompyong Wetan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon.
Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan obrog-obrog, yakni kegiatan berkeliling kampung sambil memukul alat musik sederhana untuk membangunkan warga agar bersiap menjalankan sahur.
Kegiatan yang telah berlangsung secara turun-temurun ini menjadi salah satu warna khas Ramadan di desa tersebut.
BACA JUGA:Prabowo Tunjuk Bahlil Pimpin Satgas Energi Bersih, Target 3-4 Tahun Selesai
Setiap memasuki bulan suci, para pemuda di berbagai blok di Desa Dompyong Wetan membentuk kelompok obrog-obrog yang bertugas membangunkan warga menjelang waktu sahur.
Tradisi ini biasanya dilakukan sekitar pukul 01.30 hingga menjelang waktu imsak. Para pemuda berjalan menyusuri jalan-jalan kampung sambil memainkan alat musik sederhana seperti kendang, piano, hingga alat perkusi lainnya.
Suara tabuhan yang ritmis dan nyanyian khas Ramadan membuat suasana malam di desa tersebut terasa lebih hidup. Selain berfungsi membangunkan warga untuk sahur, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat kebersamaan antar pemuda di lingkungan desa.
Salah satu pemuda yang memimpin kegiatan obrog-obrog di wilayah tersebut, Sumantri, mengatakan tradisi obrog-obrog sudah ada sejak lama dan terus dilestarikan oleh generasi muda hingga sekarang.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya sekadar membangunkan warga untuk sahur, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat yang harus dijaga keberlangsungannya.
BACA JUGA:Prabowo Bukber Bareng Ulama, dan Ormas Islam Hari Ini, Jusuf Kalla Diundang Hadir
“Tradisi obrog-obrog ini sudah dilakukan sejak dulu oleh para pemuda di desa kami. Setiap Ramadan, kami selalu berusaha mempertahankannya agar tidak hilang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa di setiap blok di Desa Dompyong Wetan biasanya terdapat satu kelompok obrog-obrog yang terdiri dari para pemuda setempat. Mereka secara bergantian berkeliling kampung setiap malam selama bulan Ramadan.
Sumantri menambahkan, keberlangsungan tradisi ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan para tokoh desa yang selalu memberikan semangat kepada para pemuda untuk tetap melestarikannya.
“Tradisi ini bisa terus berjalan karena adanya dukungan dari masyarakat. Mereka sangat mendukung kegiatan ini karena selain membangunkan sahur, juga menjadi bagian dari kebersamaan warga,” katanya.
BACA JUGA:KP2MI Berikan Pendampingan PMI di Kuwait Terdampak Konflik Timur Tengah
- 1
- 2
- »





