Ibu rumah tangga bernama Yuni (40) membagikan pengalaman saat anaknya pernah terjangkit campak ketika masih balita. Menurut Yuni, saat itu anaknya berusia sekitar tiga tahun ketika pertama kali menunjukkan gejala penyakit tersebut.
Yuni mengungkapkan, gejala awal yang dialami anaknya adalah demam tinggi. Ia sempat memberikan obat penurun panas yang dibeli di apotek, dan beberapa hari kemudian kondisi anaknya sempat membaik. Namun tak lama setelah itu, muncul ruam merah di kulit.
“Awalnya sakit demam tinggi, dikasih obat beberapa hari sempat sembuh, lalu muncul merah-merah di kulit tapi besar-besar gitu, terus gatal,” ujar Yuni bercerita kepada kumparan, Kamis (5/3).
Ia mengatakan, ruam tersebut cukup mengganggu karena menimbulkan rasa gatal pada anaknya. Untuk meredakan keluhan itu, Yuni hanya memberikan bedak pada kulit anaknya. “Dikasih bedak, Alhamdulillah agak mendingan,” katanya.
Menurut Yuni, pengalaman tersebut cukup membuat khawatir meskipun pada akhirnya anaknya bisa pulih. Ia menyebut, gejala yang muncul memang diawali dengan demam tinggi, lalu disusul bintik merah di kulit.
“Awalnya mah demam, terus muncul yang merah-merah,” ujarnya.
Saat anaknya mengalami gejala tersebut, Yuni mengaku tidak membawa anaknya ke rumah sakit. Ia hanya memberikan obat demam yang dibeli di apotek.
“Enggak dibawa ke rumah sakit, cuma dikasih obat panas beli di apotek. Tapi kata orang tua zaman dulu mah bagus kalau udah panas keluar campak, tapi enggak tahu juga sih,” tuturnya.
Yuni juga mengaku dirinya pernah mengalami campak ketika sudah dewasa. Ia terkena penyakit tersebut setelah menikah dan sudah memiliki anak.
“Pernah, pas udah nikah dan punya anak juga malah,” katanya.
Ia mengatakan, anaknya membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk benar-benar pulih dari penyakit tersebut. Masa sakit itu dimulai dari demam tinggi, munculnya ruam merah, hingga kondisi anaknya kembali membaik.
“Waktu itu kurang lebih satu minggu, dari mulai demam tinggi, muncul bintik, sampai akhirnya mereda,” ujarnya.
Anak Tak Boleh VaksinSaat ditanya mengenai riwayat vaksinasi, Yuni mengaku anaknya belum pernah mendapatkan vaksin campak. Ia mengatakan keputusan tersebut diambil oleh suaminya sejak masa kehamilan.
“Anak saya mah dari pas hamil juga enggak pernah divaksin, enggak dibolehin sama ayahnya. Pokoknya enggak boleh waktu itu,” kata Yuni.
Menurut Yuni, bahkan setelah anaknya pernah mengalami campak, keputusan untuk tidak memberikan vaksin tetap dipertahankan oleh keluarganya. Ia menyebut, pihak puskesmas sempat mendatangi rumahnya untuk memberikan penjelasan terkait imunisasi.
“Dulu pas di posyandu kan ada vaksin. Sampai dari pihak puskesmas datang ke rumah,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Yuni mengatakan petugas meminta dirinya menandatangani sebuah surat pernyataan terkait penolakan imunisasi.
“Tanda tangan kalau suatu saat nanti anak Teh Yuni kenapa-kenapa, pihak puskesmas enggak mau tahu. Enggak mau disalahkan karena enggak divaksin,” katanya.





