- Megawati Soekarnoputri berduka atas gugurnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan Israel dan AS pada 28 Februari 2026.
- Megawati mengirim surat resmi melalui Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, kepada Dubes Iran di Jakarta pada 3 Maret 2025.
- Surat tersebut menegaskan kesamaan visi perjuangan Khamenei dengan pemikiran Bung Karno, khususnya anti-imperialisme.
Suara.com - Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menyatakan berduka yang mendalam atas gugurnya Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dibunuh Israel dan Amerika Serikat pada akhir bulan Februari 2026.
Sebagai bentuk dukacita serta solidaritas, Megawati mengirimkan surat resmi kepada pemerintah Iran.
Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, yang mengantarkan langsung surat tersebut kepada Duta Besar Iran untuk Republik Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Jakarta, Selasa (3/3/2025).
"Surat dukacita adalah bentuk penghormatan terakhir bagi sang pemimpin spiritual. Ibu Megawati menegaskan Ayatollah Ali Khamenei bukan hanya seorang pemimpin politik, melainkan sosok negarawan yang teguh dalam mempertahankan kedaulatan negara dari intervensi asing," kata Hasto Kristiyanto, dikutip hari Kamis (5/3/2026).
Megawati melihat adanya keselarasan antara visi Khamenei dengan perjuangan kemerdekaan yang selama ini digaungkan oleh ayahnya, Proklamator RI Bung Karno.
Apalagi, Ali Khamenei diketahui adalah pengagum berat pemikiran Bung Karno, dan kerap mengutip pidato Presiden pertama RI tersebut.
Berikut isi lengkap surat dukacita Megawati Soekarnoputri untuk Ayatollah Ali Khamenei:
Kepada Yth,
Pemimpin Tertinggi Sementara, Presiden, dan Segenap Rakyat Republik Islam Iran
Baca Juga: Ali Khamenei Pengagum Berat Bung Karno, Bela Nasakom saat Dipenjara Syah Iran
Dengan hormat,
Dengan hati terkejut dan sangat berduka, saya Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri selaku Presiden Ke-5 Republik Indonesia dan mewakili keluarga besar Dr. (H.C.) Ir. Soekarno (Bung Karno) sekaligus sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Yang Mulia Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, yang gugur dalam serangan militer mendadak yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran pada 28 Februari 2026.
Atas nama pribadi dan keluarga besar Bung Karno serta mewakili bangsa dan rakyat Indonesia yang mencintai perdamaian, keadilan dan kedaulatan negara merdeka, saya menyampaikan simpati dan solidaritas kami yang tulus bagi keluarga, pemerintah, dan seluruh rakyat Iran.
Selama lebih dari tiga dekade, Ayatullah Ali Khamenei memimpin bangsanya dalam situasi yang sangat sulit, di tengah tekanan geopolitik, sanksi ekonomi, dan ancaman militer, seraya secara konsisten mempertahankan kedaulatan negaranya dan martabat dunia Islam. Dalam diri beliau kami melihat seorang ulama dan negarawan yang berupaya memadukan iman keagamaan, keadilan sosial, dan sikap anti-imperialisme dalam satu garis perjuangan yang konsisten.
Bagi kami di Indonesia, sosok Ayatullah Ali Khamenei memiliki kedekatan batin dan pemikiran dengan perjuangan Bung Karno, selaku Bapak Bangsa, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Berbagai kesaksian menunjukkan bagaimana sejak usia muda beliau mengagumi Bung Karno, membaca pemikirannya, dan menjadikan pengalaman Indonesia, terutama Pancasila dan semangat Dasa Sila Bandung, sebagai salah satu referensi dalam merumuskan sintesis antara agama, kebangsaan dan keadilan sosial di Iran. Dalam kepemimpinan beliau kami menangkap gema semangat anti-kolonialisme, solidaritas dunia ketiga, dan tekad untuk menolak segala bentuk dominasi dan ketidakadilan global.
Sebagai putri tertua Bung Karno, seorang penggagas Konferensi Asia-Afrika dan salah satu arsitek Gerakan Non-Blok, saya merasakan secara mendalam ikatan historis dan ideologis antara rakyat Indonesia dan rakyat Iran. Persaudaraan ini terjalin bukan hanya melalui diplomasi formal, melainkan juga melalui kesamaan nasib sebagai sesama bangsa yang menentang berbagai bentuk penjajahan, memperjuangkan kemerdekaan, serta menginginkan tatanan dunia yang lebih adil dan bermartabat.



